Nguri Budaya Jawa, Seni Kethoprak Yang Tak Lekang Oleh Waktu

139
Pagelaran Kethoprak Mitra Erlangga saat berlangsung.

KEDIRI – JYBMedia: Berbicara kesenian Kethoprak, bisa dikatakan sebuah pertujukan yang tetap bertahan sampai kini. Munculnya seni budaya dengan konsep sandiwara tradisional Jawa, biasanya memainkan cerita lama dengan iringan musik gamelan, disertai tari-tarian dan tembang.

Menilik sejarah Kethoprak, berdiri sejak tahun 1922 pada masa Mangkunegaran. Meski dengan umur yang nyaris seabad, kesenian ini tetap mempunyai nilai tersendiri bagi para pecinta budaya Jawa. Bahkan, kesenian ini seakan tak tergerus waktu seiring modernisasi yang terus bergulir saat ini.

Berkenaan dengan Kethoprak, patut mendapat apresiasi akan seorang sosok Seniman yang tetap konsisten mempertahankan kebudayaan tersebut. Adalah, Jahir Pratikno, Pimpinan Kethoprak Mitra Erlangga. Lelaki yang akrab disapa Pak Lelor bersama timnya ini, seolah tidak lelah manggung dari Desa ke Desa tanpa adanya tedensi.

Seperti gelaran Kethoprak yang digelar pada Sabtu (09/11/2019) malam, bertempat di Lapangan Desa Sebet, Kecamatan Plemahan,Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Acara yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB, diharapakan bisa memberikan warna dengan tujuan nguri-nguri budaya Jawa.

” Acara malam ini merupakan acara kami setiap malam dalam rangka nguri-nguri budaya Jawa berupa kethoprak.Harapanya, masyarakat bisa mencintai budaya sejak mulai masih kecil seperti yang di perankan oleh para pemainnya ” kata Pak Lelor dikutip Tim jybmedia.com, saat memberikan kata sambutan sebelum pagelaran Kethoprak dimulai.

Dia mengaku, memang Kethoprak yang digelar tidak hanya berkutat di satu titik desa saja. Melainkan, dirinya bersama Tim sudah menyelenggarakan acara serupa di beberapa desa. Dengan harapan, meningkatkan tali silaturahmi dan makin menanamkan kecintaan generasi muda akan budaya Jawa.

” Sebelumnya,sudah digelar di berbagai desa Kabupaten Kediri, dengan berpindah pindah tempat. Satu harapan kami, bisa meningkatkan tali silahturahmi sekaligus menanamkan rasa cinta generasi muda akan Budaya Jawa ” imbuhnya

Ketika ditanya akan penghasilan yang diberikan bagi para pemain, Pak Lelor mengaku, pihaknya memang tidak mengandalkan hasil dari bermain Kethoprak. Karena, bermain Kethoprak merupakan sarana menjaga Budaya Jawa agar tidak punah kedepanya.

” Ya, kalau malam kita main Kethoprak. Untuk mencari penghasilan lain, pagi maupun siang hari ada yang ngamen, ngunduh jagung ataupun bekerja sebagai tenaga serabutan ” urainya.

Berbicara antusiasme penonton, Pak Lelor  menjabarkan, memang melihat Kethoprak tidak seramai melihat pertujukan di gedung Bioskop. Untuk hari biasa, penonton hanya berkisar 20 orang sampai 30 orang. Berbeda kalau menginjak hari  Sabtu malam Minggu yang bisa mencapai 100 penonton.

Minat para penonton yang masih menggeliat, meski munculnya banyak tontonan di era modernisasi saat ini.

” Tiket yang kami jual juga relatif terjangkau.  Dewasa Rp 5 ribu dan Anak-anak Rp 3 ribu ” ucapnya.

Untuk jumlah para pemain Kethoprak, Pak Lelor mengatakan, dirinya menampung 16 KK. Dan, pagelaran di Desa Sebet akan berlangsung selama 5 bulan. Saat ini, pihaknya sudah melakoni pagelaran Kethoprak 1 bulan. Kalaupun masa kontrak sudah habis, dirinya akan berpindah tempat.

” Misi dan kami hanya satu hingga kami tetap bertahap sampai kini. Yakni, menjaga budaya ini jangan sampai punah” harapnya.

Terakhir, Pak Lelor juga menyampaikan Terima Kasih tak terhingga pada semua pihak yang terlibat dan mendukung kesenian Kethoprak. Utamanya,  pada Bapak Nurhadi, CEO JYBGROUP sekaligus tempatnya bekerja selama ini

” Pastinya, saya haturkan Terima Kasih tak terhingga atas dukungan semua pihak, hingga kesenian Kethoprak bertahan sampai kini. Terlebih lagi, JYB Group tempatnya bekerja selama ini disamping aktivitasnya sebagai Pimpinan Kethoprak Mitra Erlangga ” pungkasnya.

Sekedar menggambarkan, pagelaran Kethoprak saat berlangsung mengambil lakon ” Babat Tulungagung Roro Kembang Sore ” berlangsung meriah yang ditonton masyarakat Desa Sebet dan Kepala Desa setempat yang juga ikut menikmati pagelaran sampai selesai.(cka/bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here