Balai Besar Bengawan Solo Pantau Titik Longsor di Sumberwudi dan Karanggeneng

31
Tim Balai Besar Bengawan Solo saat melakukan monitoring di titik longsor Sumberwudi dan Karanggeneng.

LAMONGAN – JYBMedia: Longsornya beberapa tebing di bantaran Sungai Bengawan Solo di beberapa tempat membuat perhatian serius Balai Besar Wilayah Bengawan Solo. Dalam sebulan terakhir ini, hampir 16 titik longsor yang ada di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa, mulai dari Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik.

Satu diantara titik yang menjadi perhatian Balai Besar Wilayah Bengawan Solo adalah di wilayah Kecamatan Karanggeneng, tepatnya di Desa Sumberwudi dan Desa Karanggeneng, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. Panjang longsor diperkirakan mencapai 700 meter mulai dari Desa Karanggeneng sampai Desa Sumberwudi.

Ir. Isgiyanto, MT, pelaksana Harian Kepala Balai Besar Wilayah Bengawan Solo saat melihat langsung di lokasi longsor di Dusun Glogok, Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng mengatakan, bahwa rata-rata longsor di bantaran Sungai Bengawan Solo disebabkan akibat turunnya debit air yang cukup drastis sehingga memaksa tanah yang selama ini ditahan oleh air juga ikut turun.

“Selain akibat kemarau panjang sehingga memaksa permukaan air Bengawan Solo turun.Karena, pengambilan air oleh pompa-pompa air yang cukup banyak unitnya itu juga bisa menjadi pemicu permukaan air turun dan terjadilah tebing Sungai Bengawan Solo longsor,” ujar Isgiyanto. Senin (02/12/2019)

Selain itu, dia menegaskan, untuk waktu yang akan datang, pengambilan air yang dilakukan dengan menggunakan mesin pompa air harus ditertibkan. Artinya, satu pompa air untuk mengaliri berapa hektar lahan pertanian, sehingga pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo bisa teratur dan tidak sampai terjadi kekurangan debit air ketika memasuki kemarau apalagi tahun ini cukup panjang.

“Mestinya pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo itu tidak boleh seenaknya harus bisa mengukur keseimbangannya. Kalau saya amati mulai dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan sampai Gresik, mesin pompa air untuk menyedot air cukup banyak bahkan ribuan unit dan itu tinggal mengalihkan saja jumlahnya berapa kubik air yang diambil setiap harinya,” urai Isgiyanto.

Balai Besar Bengawan Solo dalam waktu dekat ini belum bisa mengambil sikap untuk menangani longsor yang terjadi di Kecamatan Karanggeneng ini. Namun, beberapa analisa akan dibawa ke Jakarta guna dikaji untuk diambil tindakan. Sehingga tidak akan terjadi longsor untuk waktu yang akan datang.

Sejalan dengan pernyataan Isgiyanto, Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan, Muslimin mengatakan, agar warga pun bisa membantu menjaga dan merawat tangkis dan bantaran Sungai Bengawan Solo.

“Warga sekitar diharapkan juga tidak menanami dengan tanaman-tanaman besar yang memiliki akar yang panjang dan besar sehingga menyebabkan tanah retak. Serta, juga tidak menanam pohon pisang, karena pangkal pohon pisang menyebabkan lembab sehingga tanah gembur dan mudah longsor,” pungkas Muslimin.(bis/bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here