Nikmatnya Minuman Legen Tak Tergerus Zaman

Berbekal sepeda onthel, Mbah Matroji tetap konsisten berjualan minuman Legen.

KEDIRI – JYBMedia: Ditengah menjamurnya minuman instan, seperti sachet, milkshake hingga kopi kekinian, ternyata masih ada penjual minuman tradisional yang mungkin belum familier bagi kalangan Milenial akan istilah minuman legen. Kata Legen, berasal dari kata dasar legi (bahasa Jawa) yang artinya manis.

Legen, mayoritas terbuat dari bunga pohon siwalan yang bunganya berbentuk sulur. Sulur bunga ini, dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya dan ditampung pada sebuah tabung yang biasanya terbuat dari potongan batang bambu satu ruas.

Untuk lama penyadapan ini, biasanya semalam dan sore harinya, tabung bambu ini (disebut bumbung) diletakkan sebagai penampung. Lalu, pada pagi harinya sudah memuat penuh satu tabung. Satu manggar bunga, biasanya menghasilkan sekitar tiga hingga enam tabung legen.

Membahas tentang Legen, ada seorang Kakek yang masih bertahan menggeluti minuman tradisional di pinggir jalan Taman Sekartaji, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Meski sudah lanjut usia, harga satu gelas Legen sang Kakek yang dihargai Rp 5 ribu, mampu melepaskan dahaga di siang bolong.

Adalah Mbah Matroji, asal Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Meski sudah berusia 60 tahun, Ia masih terlihat sehat dan trengginas berjualan minuman Legen yang dilakoninya selama puluhan tahun.

Kegigihan Mbah Mat, sapaan akrab penjual Legen tersebut, juga tidak diragukan lagi. Tiap harinya, Ia harus mengayuh sepeda pancal sepanjang 17 kilometer dari rumahnya menuju Kota Kediri. Banyak kisah menarik yang dialaminya selama berjualan minuman Legen.

” Saya sebetulnya trauma kalau difoto. Pernah, ditanya anak-anak gadis berseragam SMA. Lalu, diambil fotonya dan ditanya segala macam, tapi pada akhirnya nggak beli” kisah Mbah Mat, saat didatangi Tim jybmedia.com, Sabtu (4/12/2019) siang.

Baca juga:  Soal Demo UU Omnibus Law Cipta Kerja, Ini Pesan Ketua PHDI Bali

Mbah Mat juga menceritakan, bahwa pekerjaan sebelumnya sebagai tenaga serabutan. Niatnya bekerja hanya satu, bisa menyekolahkan anak sampai usia lanjut pun juga terus bekerja. Karena, Ia tidak terbiasa berdiam diri.

” Alhamdulillah, berjualan Legen sejak 30 tahun lamanya, mampu mengentaskan 4 anak saya. Anak pertama, sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri. Sedangkan 3 anak lainya, sudah bekerja dan Alhamdulillah kondisinya cukup” pungkasnya.(ogi/bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here