Balita Alami Gizi Buruk Masih Terjadi di Lamongan

73
Meilani Alfira Damayanti, balita yang masih berusia 2 tahun 8, masih tergolek lemah di ruang Anggrek, RSUD dr Soegiri Lamongan.

LAMONGAN – JYBMedia: Nasib malang dialami Meilani Alfira Damayanti, balita yang masih berusia 2 tahun 8 bulan hanya bisa berbaring lemas di atas tempat tidur di ruang anggrek, RSUD dr Soegiri Lamongan.

Anak dari pasangan suami istri dari keluarga tidak mampu Dwi Novita (29) dan Suwarsono asal Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, didiagnosa tim Dokter menderita gizi buruk. Lantaran, tubuh bocah perempuan mungil tersebut, hanya berbobot 4 kilo gram, dari berat ideal balita yang menginjak usia 2 tahun harusnya memiliki berat badan 12 kilo gram.

Aty Firsiyanti dokter spesialis anak RSUD dr.Soegiri Lamongan yang menangani balita malang ini mengatakan, untuk memulihkan kondisi kesehatan Alfira sudah mendapatkan penanganan dari dokter rumah sakit. Selain itu, tim Dokter juga bakal mencari jenis penyakit lain yang mungkin juga diderita balita tersebut.

“Kemarin datang dan sudah kita tangani. Namun lagi-lagi untuk penyembuhan butuh proses agak lama karena anak ini sendiri mengalami gizi buruk sudah sekitar 2 tahun,” kata Dokter spesialis anak, Aty Firsiyanti. Senin (13/01/2020).

Sementara, Novita ibu kandung bayi penderita gizi buruk mengaku, gizi buruk yang menimpa anak semata wayangnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu.

Novita mengisahkan, saat itu Alfira yang diasuh oleh neneknya hanya diberikan susu formula. Lantaran, sejak bercerai dengan suaminya bulan Oktober 2019, Ia harus berjualan sayur keliling untuk bertahan hidup.

“Karena saya harus berjualan keliling jadi anak saya diasuh sama ibu saya mas,” jelasnya, saat ditemui di RSUD dr Soegiri, Lamongan

Menurutnya, asupan anaknya hanya diberikan susu formula, hingga Alfira mengalami muntah-muntah dan pihak keluarga membawa anaknya ke rumah sakit swasta di Lamongan. Namun, upaya pengobatan tidak membuahkan hasil. Berat badan Alfira justru semakin menurun.

Karena kondisi yang serba kekurangan, akhirnya pihaknya kmemutuskan untuk membawa pulang Alfira ke rumah di Desa Latukan. Saat berada di rumah, keluarga juga membawa Alfira ke pengobatan alternatif dan hanya diberikan air mineral saja.

Namun, kondisi yang terjadi malah justru memprihatinkan, hinga Ia membawa Alfira ke bidan Puskesmas dan disarankan untuk dibawa ke RSUD Lamongan.

“Saya memilih pengobatan alternatif. lantaran aja tidak punya uang.Lalu, saat diperiksakan melalui Bu Bidan dirujuk ke RSUD Lamongan,” pungkasnya seraya pasrah.

Kini, Bu Novita hanya bisa pasrah dam berharap kesembuhan penyakit yang diderita anaknya, agar bisa sembuh dan pulih seperti balita pada umumnya.(bis/bud)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here