SMPN 2 Gurah Raih Predikat Sekolah Adiwiata Mandiri Tingkat Nasional.

Kiptiyah, Sekretaris Adiwiyata SMP Negeri 2 Gurah, saat menunjukkan Trophy Predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri Tingkat Nasional.

KEDIRI – JYBMedia: Tak dinyana, niat awal para Guru membekali ilmu-ilmu tentang ketrampilan berbuah manis, hingga tingkatan tertinggi kompetisi bidang lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan RI, didapat dengan tidak mudah.

Pasalnya, mereka harus bersaing di tingkat Kabupaten, Provinsi, dan terakhir tingkat Nasional yang diraih pada tahun 2017, lalu.

Suzana Kuncahyanie Rahardiyan, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Gurah, mengatakan, terhitung sejak Juni 2019 lalu, Ia sudah mengabdi selama 6 bulan. Dimulai menjadi Guru sejak 1981, menjadikanya banyak pengalaman yang diraih. Dia juga menceritakan, sebelum meraih predikat Adiwiyata Mandiri, juga pernah mengabdi di SMPN 2 Wlingi.

“ Jika ingin bersaing mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri, Juara Nasional harus memiliki visi tidak hanya fisik sekolah yang asri, tapi tindakan beserta perilaku Bapak Ibu Guru dan Siswa harus memiliki mindset mengacu pada cinta lingkungan. Kategori Adiwiyata Nandiri juga harus memiliki sekolah binaan. Nah, kita memiliki 3 Sekolah, yakni, SMP 3 Plosoklaten, SMP 2 Kepung dan SMP 2 Wates” ujarnya.

Lebih jauh, Suzana juga menguraikan, sekolah binaan merupakan rangkaian dari predikat peraih kategori Sekolah Adiwiyata Mandiri. Jadi, harus mempunyai Sekolah Binaan untuk dibina menuju Adiwiyata kabupaten sampai jadi. Kemudian, berbenah diri menuju mandiri, hingga ketiga sekolah binaan SMPN 2 Gurah, harus mendapat predikat Adiwiyata tingkat Kabupaten.

Selanjutnya, dari rangkaian tersebut, akhir tahun 2019, SMPN 2 Gurah akhirnya mendapat predikat Adiwiyata Mandiri dan piala langsung diserahkan Menteri Lingkungan Hidup di Jakarta.

“Proses pembinaan adalah pengenalan bagaimana bentuk kepedulian terhadap lingkungan, ada beberapa Pokja, seperti Pokja sampah mengubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dipilah dan diolah. Lalu, Pokja Kebun, memiliki tugas menata menanam sayuran yang ada manfaatnya, hidroponik, biopori, sumur resapan, kranisasi, sampai pada kantin harus ada pengelolaannya, makanan harus dipantau, harus makanan sehat, tidak boleh mengandung 5P (Pengenyal, pengawet, pewarna, pemanis, pemutih) tidak diperbolehkan” imbuhnya.

Baca juga:  Legeslator Prihatin dengan Besarnya Biaya PCR

Sementara, untuk pembinaannya langsung dari Bapak Ibu Guru dan terdapat Tim Ketua Adiwiyata sampai peran Pokja bekerja dalam membimbing Guru. Lalu, dari Kementerian Lingkungan Hidup juga memiliki jenjang Kompetisi, yakni akan ada lagi tingkat Asean. Tapi, pihaknya belum dikonfirmasi kembali.

“ Merupakan beban dan tanggung jawab yang luar biasa untuk kami, bagaimana caranya agar kita bisa mempertahankan ini dan lebih baik lagi kedepanya ” pungkasnya.(ogi/bud)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here