Kisah Pengrajin Seni Ukir Kayu Ditengah Kerasnya Persaingan

74
Stand Ukir kayu milik Hasan bawazier di Jalan Bandar Ngalim, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Jawa Timur.

KEDIRI – JYBMedia: Pada umumnya orang mengira kerajinan kayu yang dipasarkan terbuat dari kayu jati asli daerah Blora atau jepara. Namun, pada kenyataannya, di Kota Kediri, ada salah satu pengrajin seni kayu yang dijual berbahan baku dari wilayah kediri. Tentu, hasilnya tidak kalah bersaing dengan usaha sejenis dari daerah lain.

Bertempat di sebelah selatan perempatan Bandar Kidul atau lebih tepatnya timur pos pemantauan polisi, dengan penuh ketelitian dan ketrampilan memainkan alat tukang untuk memahat sebuah ukiran pada sebuah potongan kayu, Hasan bawazier menggelar karyanya yang dipajang dan diperjual belikan bagi masyarakat yang melintas di Jalan Bandar Ngalim, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Jawa Timur.

Saat ditemui tim jybmedia, Hasan bawazier mengatakan, Ia bersyukur selalu mendapat pesanan lumayan banyak dari masyarakat. ” Alhamdulillah, dapat pesanan lumayan dari masyarakat,” ucapnya.

Menurutnya, berbekal ketrampilan yang dimiliki, Ia pernah sempat sukses di Jakarta tahun 1996-2000. Awal mulanya, usaha yang digeluti berkat belajar kepada kedua gurunya saat di Jogja tahun 1992 dan jepara 1993-1996. Sempat menjalankan bisnis lain, karena kurang beruntung Hasan memulai usaha awalnya yakni kerajinan seni kayu, dan baru setahun ini, Ia memulai kembali usahanya kembali di Kota Kediri, yakni ukiran kayu.

Dan Selama tiga bulan ini, tempat usahanya berpindah tempat, hingga dipilih sekitar perempatan jalan Bandar, untuk mempermudah promosi agar bisa dilihat masyarakat secara langsung proses pembuatanya.

” Respon masyarakat sangat positif. Bahkan Wali Kota Kediri, sempat memesan ukiran tulisan sekitar 2 bulan lalu, untuk dipergunakan di dalam ruangan kerjanya” akunya.

Pria yang berdomisili di Gang Kasbit, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, juga mengatakan, bahan dasar yang digunakanya, berbahan kayu jati, kayu sono, dan mahoni asli dari Kediri dan tidak mengambil dari bahan baku luar daerah. Sedangkan, untuk harga bervariasi sesuai pesanan dan kerumitan dari pelanggan. Namun, rata rata yang dijual berkisae Rp. 50 ribu sampai Rp 300 ribu.

” Apabila pengerjaan sulit dan memakan waktu lama, pernah saya kerjakan dengan harga hingga jutaan rupiah. Dan, dalam pengerjaan sebuah ukiran yang dipesan bisa dikerjakan selama 1 hari, dan maksimal 1 bulan bisa menghasilkan 20 karya. Untuk aktifitas kerja, dari Senin hingga Sabtu, pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB ” ucapnya.

Saat ditanya kapan waktu berbagi bersama keluarga, Hasan mengaku, Ia memanfaatkan libur setiap hari Minggu untuk berkumpul dengan keluarga. Karena, baginya keluarga adalah yang utama.

” Seberapapun hasil yang didapat dalam bekerja, kembalinya juga kepada keluarga, serta selama dalam menjalankan usaha membutuhkan ketelatenan dan konsistensi, agar rezeki yang sudah di atur oleh Tuhan akan mengalir dengan sendirinya” pungkasnya.(abi/bud)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here