Solusi Kapolresta Kediri Atasi Dampak Sosial Masyarakat yang Menggelar Hajatan

59
Kapolres Kediri Kota, AKBP Miko Indrayana, saat pertemuan dengan Organisasi Profesi Kesehatan di Ruang Joyoboyo Pemerintah Kabupaten Kediri.

KEDIRI – JYBMedia: Wabah Covid 19 yang sudah memasuki wilayah Kediri membuat panik masyarakat, hingga tindakan preventif dari Pemerintah pun mulai diberlakukan sesuai dengan protokol keamanan yang dibuat oleh Pemerintah. Dampak sosial pun mulai terasa bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah, serta masyarakat yang akan melangsungkan resepsi pernikahan. Hal tersebut menjadi kegundahan, karena persiapan pernikahan biasanya sudah dijadwalkan jauh hari, sebelum wabah Corona melanda.

Dari kondisi itu, Pemerintah Kota dan Kabupaten Kediri memberikan rekomendasi, seperti melaksanakan akad nikahnya saja. Karena, masyarakat yang mempunyai hajatan sudah terlanjur membagi undangan, bahkan juga meminjam uang untuk melangsungkan hajatan.

Menyikapi hal tersebut, Kapolresta Kediri AKBP Miko Indrayana, memiliki saran untuk menangani masalah itu. Solusinya, undangan harus ada batasan agar tidak menuai kendala saat pelaksanaan.

“ Untuk segala kegiatan yang menghadirkan massa yang banyak akan dibatasi, tapi kita harus memperhatikan dampak sosial, misalnya ada yang mau menikah sudah ngutang 2 bulan yang lalu. Tapi, saat melaksanakan kegiatan resepsi dengan jumlah 100 orang, tentunya yang bersangkutan harus melapor supaya pihak Keamanan menghimbau dan ada batasan” ujarnya, saat ditemui pasca pertemuan dengan Organisasi Profesi Kesehatan di Ruang Joyoboyo Pemerintah Kabupaten Kediri, kemarin.

Salah satu opsi yang ditawarkan AKBP Miko bagi masyarakat, agar dampak ekonominya tidak harus merugi. Caranya, kunjungan tamu dilakukan pembagian tiap termin saat resepsi berlangsung. Jika nantinya ada yang terpapar virus corona, maka akan terlihat datang di jam berapa. Dari sini, tamu yang hadir akan langsung diperiksa untuk meminimalisir dampak sosial yang timbul.

“Contoh jumlah undangan 100 dibagi dalam 3 termin atau waktu. Setiap waktu, seumpama 20 undangan, kemudian yang datang pada salah satu sesi terkena wabah akan diketahui siapa dan jam berapa yang hadir dalam undangan. Sehingga, dampak sosialnya akan bisa kita minimalisir” tutup AKBP Miko.( ogi/bud)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here