Lebaran ” Teristimewa” di Mata Jurnalis Perantauan

Aan Anggara, Jurnalis jybmedia.com/ Presenter jyb tv

KEDIRI – JYBMedia: Meskipun tidak tahu persis sejak kapan tradisi itu ada. Namun tradisi mudik selalu menjadi agenda penting dan wajib dilakukan warga perantau pada setiap memasuki akhir Ramadan.

Selain sebagai ajang untuk bersilaturahmi dan melepas rindu dengan seluruh sanak saudara di kampung halaman. Mudik saat momen Lebaran juga menjadi ajang pembuktian kesuksesan seseorang kepada keluarganya ataupun warga di kampung halaman.

Berbagai oleh-oleh ataupun souvenir untuk tanda kasih yang dibeli di perantauan tak lupa dibawa pulang ke kampung halaman, untuk selanjutnya diberikan kepada orang orang-orang terkasih yang telah cukup lama di tinggal ke perantauan.

Namun, merebaknya pandemi Corona (Covid-19) saat ini telah merubah semua harapan dan impian para perantau untuk dapat berkumpul bersama orang-orang terkasih di kampung halaman saat momen Lebaran.

Kebijakan untuk tidak mudik bagi para perantau ke kampung halaman mereka yang dilakukan pemerintah mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota sebagai upaya pencegahan dan penularan Covid-19 itu, tak sedikit membuat sejumlah perantau kecewa dan sedih.

” Ya, mau gimana lagi. Perasaan sedih pasti ada, karena efek penyebaran virus covid 19, mengharuskan saya tidak mudik di tahun ini sesuai dari imbauan pemerintah. Syukur Allhamdulilah, keluarga di kampung halaman bisa saling mengerti, tidak memaksa harus pulang dan menerima keputusan pelarangan mudik demi kebaikan bersama” ucap Andi Rifai, Jurnalis jybmedia.com, asli Grobogan, Jawa Tengah.

Bapak dua orang yang akrab disapa Aan Anggara dan bermukim hampir 5 tahun di Kediri, juga menguraikan, untuk mengobati rasa kangen dengan keluarga, Ia memanfaatkan komunikasi melalui telpon, vidio call. Baginya, Lebaran tahun ini menjadi momen spesial, dengan adanya pandemi Covid 19.

Baca juga:  Komunitas Wilis Hash House Harriers, Beri Bantuan APD Bagi Rumah Sakit dan Puskesmas

” Satu yang saya kangeni dan tidak bisa terlupakan saat Lebaran, yakni menyiapkan masakan rendang untuk keluarga besar dan disantap secara beramai ramai. Kebetulan istri saya anak pertama dikeluarganya. Jadi adik atau keponakan biasanya berkumpul. Hanya berharap, semoga wabah Covid 19 segera berakhir dan bisa kembali normal” harapnya.

20 Tahun Rutin Mudik, Baru Tahun Ini Tidak

Hal senada juga dirasakan Fendy Lesmana, Kontributor Radio El Shinta yang bertugas di Kediri. Lelaki asli Surabaya ini memilih tidak mudik atau memutuskan tidak pulang ke kampung halamanya.

Lelaki yang akrab disapa Cak Pendik ini berkomitmen, bahwa keputusan ini diambil untuk keselamatan bersama, baik dirinya sendiri dan juga keluarga besarnya.

” Seperti diketahui Surabaya dan Kediri sama sama dinyatakan sebagai zona merah Covid-19. Inilah yang menjadi acuan saya memilih tidak pulang kampung demi keselamatan bersama” ucapnya

Cak Pendik juga menguraikan, Ia bermukim di Kediri sudah 20 tahun lamanya. Selama kurun waktu tersebut, dirinya rutin mudik ke kampung halaman dan baru tahun ini memutuskan tidak mudik.

” Setiap hari, saya selalu komunikasi dengan Orang tua yang juga menasehati agar tidak mudik demi kebaikan bersama. Harapanya, wabah Covid-19 ini segera berakhir dan bisa normal kembali seperti sebelumnya” pintanya. (abi/bud)

Fendy Lesmana, Kontributor Radio El Shinta.
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here