Hari Raya Karo di Lumajang Diperingati Secara Sederhana

Ilustrasi Peringatan Hari Raya Karo warga Tengger di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. (dok: wisatagunungbromo.com)

LUMAJANG – JYBedia: Peringatan Hari Raya Karo oleh warga Tengger di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, diperingati secara sederhana dalam suasana andemi covid19. Ada pertunjukan Seni Tayub sebagai hiburan masyarakat dan dilaksanakan selama satu hari dua malam, mulai tanggal 13-14 September 2020.

Acara ini juga dihadiri Bupati Lumajang Thoriqul Haq dan Ketua DPRD Kabupaten Lumajang Anang Akhmad Syaifuddin.

Bupati Thoriq senang melihat semangat masyarakat dalam memajukan daerahnya. Dirinya menyampaikan banyak perubahan yang terjadi di Desa Ranupani, menurutnya Desa Ranupani lebih maju.

“Saya senang sekali melihat masyarakat punya semangat masyarakatnya untuk maju, banyak perubahan dari yang dulu, ayo bareng-bareng dengan pemerintah memajukan Ranupani,” ujar Bupati Thoriq, Minggu (13/9) malam.

Menurutnya, Desa Ranupani merupakan pintu gerbang pariwisata Lumajang dan akan ada rencana pengembangan potensi wisata di Ranupani seperti pembangunan Rest Area yang di dalamnya juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk pemenuhan kuliner khas Ranupani.

Lumajang saat ini fokus mengembangkan Ranu Pani sebagai gerbang pariwisata Lumajang. Ranu Pani dipilih karena menyajikan wisata alam eksotis yang menjadi primadona wisatawan lokal maupun mancanegara.

Diharapkan para pemudanya menjadi motor penggerak sektor pariwisata Ranu Pani. Pemuda Tengger Desa Ranu Pani diharapkan mampu menangkap segala peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Menurut Satumat salah satu tokoh masyarakat setempat menjelaskan, perayaan Hari Raya Karo merupakan adat masyarakat Tengger yang bertujuan untuk memohon keselamatan agar terhindar dari segala musibah.

“Karo kersane selamatan sedoyo, monggo lanjut, niki adat sanes agami, monggo dijagi sareng-sareng, monggo gotong royong mboten tukaran, kersane adat istiadat tetep dilaksanaaken, pun ical masalah adat istiadat, (Ini supaya semua selamat, silahkan untuk dilanjut, ini adalah adat bukan agama oleh karena itu mari dijaga bersama gotong royong tidak perlu berselisih supaya adat tetap dilaksanakan tidak hilang terkait adatnya),” ujar Satumat. (mok/sib/red/jyb)

Baca juga:  Budaya Cukur Rambut Si Kecil yang Masih Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here