Melihat Nasib Pembelajaran Anak Ditengah Pandemi

Ilustrasi anak belajar mandiri (dok/katadata)

JYBMedia: Sudah bisakah kita aplikasikan teori Paulo Freire tentang pendidikan kebebasan? Pendidikan yang memberikan ruang gerak luas bagi siswa sebagai jalan menuju peningkatan kualitas intelektual dan potensi manusia, di mana kita percaya bahwa setiap siswa adalah manusia sempurna dengan perbedaan potensi yang dimiliki. Sedang kita saat ini sedang berada di fase tersulit untuk menerapkan pembelajaran semacam itu di tengah pandemi justru pembelajaran itu sendiri menjadi bumerang yang menyengsarakan bagi sebagian siswa.

Berjalan menyusuri bukit dengan kondisi jalan yang terjal, selisih jarak dengan rumah yang begitu jauh hingga berkilo-kilo, bukanlah sepatu yang mereka kenakan, melainkan sandal dengan berjalan terbata-bata menuju puncak gunung. Jika hujan datang, terpaksa harus berjalan tanpa alas kaki. Bagi mereka yang sudah biasa berjalan tanpa alas kaki akan merasa baik-baik saja, tetapi bagi saya yang tidak pernah melepas alas kaki, rasanya telapak kaki begitu nyeri, bahkan berdarah, sebab jalan yang dilewati benar-benar susah, rasanya tidak betah untuk menemani mereka belajar. Namun, seketika rasa itu hilang ketika saya bertanya alasan mereka tetap sekolah.

“Kami ingin tetap belajar kakak, sampai ke mana pun, biar daerah kami tidak akan begini nanti.” Jawaban yang sungguh menyayat hati dari anak perbatasan yang jarang sekali mendapatkan perhatian lebih dari kita bahkan tersingkirkan dari pandangan kita. Pernah kita mengeluh betapa pembelajaran pada hari ini justru lebih banyak menguras emosi dan mengundang stres daripada belajar seperti biasa? Sekilas tampak benar bahwa di masa pandemi kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kecanggihan teknologi yang menyajikan berbagai ragam kemudahan yang diberikan. Bisa jadi setelah pandemi kita sudah beraptasi dengan pembelajaran seperti Amerika, Singapura, yang maju dalam segi pendidikan.

Baca juga:  Taman Kota Berpotensi Jadi Ajang Pesta Miras

Bagi sebagian orang metode pembelajaran ini sangat menyenangkan, handphone setiap waktu dipegang, berbagai informasi bisa didapatkan dengan sangat mudah. Namun, bagaimana nasib anak perbatasan? Dengan kuota yang begitu mahal, dan sinyal yang lemah bahkan harus menempuh jarak yang jauh untuk pergi ke puncak gunung demi mendapatkan sinyal. Bekal makanan yang mereka kadang untuk dua kali makan, tapi begitu terharunya ketika sampai di puncak gunung sudah tersedia rumah pohon seperti film “My Heart” di masa silam.

Katanya, bapak-bapak merekalah yang membuatkannya agar nyaman mengikuti pembelajaran online. Di antara mereka ada pula yang tidak memiliki android untuk mengikuti pembelajaran, sehingga satu handphone mereka gunakan untuk berdua. Tidak ada mentor ataupun guru yang menemani mereka belajar, semua dilakukan benar-benar mandiri. Akhirnya, saya memutuskan untuk menggalang donasi demi membelikan handphone serta membantu membelikan kuota bagi mereka.

Kadang di fase ini saya juga bertanya, di mana fungsi guru yang acap kali didengungkan oleh kebanyakan orang dari Ki Hajar Dewantara bahwa seorang guru ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sedang di masa pandemi interaksi antara guru dan siswa dilakukan dengan sangat terbatas, bahkan tidak diperbolehkan untuk berjumpa. Sering sekali mereka pulang hingga petang untuk mengikuti pembelajaran daring.

Negara kita mengimpikan kemajuan yang begitu pesat tentang pendidikan agar bisa bercermin dari negara-negara maju yang memiliki kualitas pendidikan yang mumpuni. Namun, sebagian daerah Indonesia, anak-anak bangsa masih kesulitan dengan fasilitas yang harus ditempuh untuk menuju pendidikan yang berkualitas. Sebagian daerah sangat membutuhkan perhatian dan pengayoman yang masif dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Baca juga:  Pengguna Jalan, Hindari Simpang 3 Ngadiluwih

Bukankah pendidikan adalah hak segala bagi bangsa? Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, hal itu tertuang dalam pasat 31 ayat 1 UUD 1945. Dalam posisi ini negara harus hadir menjadi problem solver bagi anak perbatasan yang memiliki berbagai kesulitan. Anak muda juga perlu berkolaborasi untuk saling bergerak bahu-membahu dalam menyampaikan aspirasi kepada khalayak luas dengan menggalang dana, menjadi wadah untuk belajar bersama dengan mereka serta ikut terlibat menjadi bagian dari mereka. Hal yang paling penting yaitu peran guru dalam memberikan pembelajaran tidak bisa dipasrahkan kepada sinyal internet yang kurang memadai dengan tarif kuota yang begitu mahal.

Sarana dan prasarana lainnya seperti radio, televisi swasta juga bisa menjadi salah satu media yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran. Sehingga anak-anak perbatasan bisa mengakses pembelajaran dari apa saja dan di mana saja. Sebab daerah yang belum terjamah dengan sinyal internet tidak bisa dijadikan satu-satunya media pembelajaran. Menjadi tugas bersama, seluruh elemen baik masyarakat, pemerintah, anak muda serta guru-guru bersatu untuk mempersembahkan pembelajaran terbaik, mengulurkan tangan bersama sesuai dengan aksi yang bisa dilakukan untuk saling membantu demi pendidikan Indonesia bagi anak perbatasan yang lebih baik di tengah pandemi. (*)

Pengirim dan Penulis

Muallifah-Mahasiswi Prodi Manajemen Pendidikan Tinggi UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here