Melihat Masjid Tua di Medan yang Berdiri Sejak 1885

(dok/mimbarrakyat)

MEDAN – JYBMedia: Bila ingin menyaksikan bangunan tua dan unik datanglah ke kota Medan, karena kota di utara Sumatera itu banyak bangunan bersejarah, salah satunya Masjid Raya Badiuzzaman.

Apa yang menyebabkan bangunan masjid itu unik? Ya karena tua, dibangun pada 1885, kemudian konon penataan bebatuannya bukan menggunakan semen melainkan putih telur.

Bayangkan berapa ribu atau juga telur yang dibutuhkan untuk menempel bebatuannya, sehingga terbayang mirip dengan bangunan candi Prambanan yang juga berdasar sejarah dibangun menggunakan putih telur.

Kalau Anda ingin melihat bangunan tua masjid Badiuzzaman Surbakti itu, lokasinya terletak di Jalan PDAM Sunggal No. 1 Medan.

Berdasar catatan sejarah, masjid itu sudah berdiri sejak 60 tahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 1885. Masjid itu disebut merupakan masjid yang menjadi saksi perlawanan terhadap penjajah kolonial Belanda.

Harhara Sembiring, salah seorang warga dekat masjid yang faham tentang sejarah bangunan itu, menuturkan, masjid itu dinamakan Datuk Badiuzzaman Surbakti karena pembangunan masjid ini diinisiasi oleh Raja Sunggal Datuk Badiuzzaman Surbakti.

“Datuk Baiduzzaman Surbakti adalah suku Karo dan merupakan Raja Sunggal yang selalu menantang penjajah Belanda,” kata Sembiring.

Ia menuturkan, yang paling unik adalah, ketika pembangunan masjid itu, — karena Datuk Baiduzzaman selalu bertentangan dengan penjajah Belanda,– maka Belanda tidak membolehkan pembangunan menggunakan semen.

“Sehingga merekatkan bahan untuk bangunan masjid ini adalah putih telur. Konon ribuan butir putih telur sebagai bahan perekat pasir, batu untuk bangunan masjid itum,” ucapnya

Dahulunya masjid ini selain sebagai tempat beribadah juga sebagai tempat menyusun strategi perang.

“Masjid ini sebagai tempat menyusun strategi perang kerajaan Sunggal ketika akan berhadapan dengan pasukan Belanda,” urai Sembiring.

Baca juga:  Lestarikan Budaya, Band Metal Asal Kota Kediri Usung Lirik Budaya Jawa

Di halaman masjid ini juga terdapat makam tua keturunan dan keluarga Datuk Badiuzzaman, sedangkan makam Datuk Baiduzaman ternyata ada di Cianjur.

Harhara Sembiring juga mengatakan, karena Belanda memanggil Datuk ke Cianjur untuk perundingan, tapi Datuk tidak mau berunding karena tidak cocok dengan pihak Belanda.

“Datuk Badiuzzaman Surbakti di asingkan ke Cianjur sampai akhir hayatnyaa,” tandasnya.

Untuk diketahui, saat berkunjung ke masjid itu Minggu, terlihat di menara masjid ada tulisan Masjid Raya Datuk Badiuzaman Surbakti. Dibangun tahun 1885 (1306 H) oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti.

Ketika memasuki bagian dalam masjid, terlihat empat pilar dari kayu berwarna hijau. Masjid dilengkapi dengan enam jendela berwarna hijau dengan kaca berwarna kuning.

Selain digunakan untuk shalat, masjid unik itu kini merupakan salah satu obyek wisata yang selalu dikunjungi turis lokal dan mancanegara. (al/arl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here