Situs Nanga Sia Terancam Rusak

Situs Kursi Batu dan Situs Gong Batu serta Situs Kuburan Batu di wilayah So La Nggedu.(ist)

DOMPU – JYBMedia: Kondisi situs budaya leluhur masyarakat Dompu yang usianya ribuan tahun, merupakan hasil temuan arkeolog Bali dan Jakarta di Kecamatan Hu’U. Kini, kondisinya terancam rusak.

Selain diakibatkan oleh abrasi pantai, aktivitas eksploitasi pasir pantai di kawasan sekitar situs tersebut, semakin mempersempit areal situs yang dikenal dengan Situs Nanga Sia.

Situs Nanga Sia merupakan salah satu bukti sejarah kebudayaan masyarakat Dompu masa silam. Bahwa, sekitar 5000 tahun sebelum masehi (SM), masyarakat Dompu sudah memiliki peradaban dan tata kehidupan social kemasyarakatan yang lebih baik, bahkan dengan keterbatasan teknologi kala itu. Leluhur masyarakat Dompu, sudah mampu melakukan hubungan dagang international atau hubungan dagang dengan luar negeri terutama negeri China.

Penelitian yang dilakukan oleh arkeolog Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar menyebutkan, dengan adanya temuan tembikar dan beberapa barang pecah belah yang berlogo dan bertulisan China, merupakan salah satu fakta adanya hubungan dagang yang sangat kuat antara leluhur masyarakat Dompu dengan para pedagang dari negeri China.

Pantauan wartawan menyebutkan, bukti sejarah purbakala ini sangat mungkin akan lenyap dan hancur manakala pemerintah tidak segera menghentikan aktivitas eksploitasi pasir pantai di Situs Nanga Sia. Belum lagi, hantaman gelombang ke arah areal situs Nanga Sia yang setiap saat bisa saja menghancurkan areal Situs.

“Harusnya ada upaya penghijauan dengan melakukan penanaman mangrove di pinggir pantai sekitar wilayah Situs Nangasia,” ungkap beberapa warga di sekitar areal Situs.

Sementara itu, Situs Kursi Batu dan Situs Gong Batu serta Situs Kuburan Batu di wilayah So La Nggedu, Desa Hu’U pun, rupanya sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal, temuan – temuan arkeologi ini dihajatkan untuk memperkaya potensi wisata di Kabupaten Dompu.

Baca juga:  Tradisi Unik Peringati Hari Raya Idul Adha

Saat ini, situs-situs tersebut sudah sangat sulit untuk ditemukan akibat tertutup semak belukar. Padahal pemerintah sebelumnya, mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk penelitian potensi wisata budaya nenek moyang masyarakat Dompu ini.

“Seharusnya Dinas terkait dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya, bisa mengambil langkah positif untuk mengaktifkan kunjungan wisata di sejumlah situs purbakala tersebut,” ungkap Suharlin ST, anggota DPRD Dompu wakil Partai Amanat Nasional (PAN).

Pada zaman kepemimpinan Bupati Dompu H.Abubakar Ahmad SH, sejumlah ahli arkeologi dibiayai untuk melakukan penelitian di lokasi situs purbakala di Hu’U. Tujuannya, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan local, terutama kepada mereka warga Dompu yang hendak mempelajari dan mengetahui lebih dalam tentang identitas Dompu seutuhnya.

Bahkan kala itu, Bupati H.Abubakar Ahmad, SH, hendak mengajukan hak paten seni ke Departemen Kehakiman atas ditemukannya karya purbakala yang berbentuk “GONG” dan saat ini lebih dikenal dengan “GONG BATU”. Karena, menurut temuan para arkeolog tersebut, Gong yang menjadi salah satu instrument music saat ini, awalnya adalah hasil produksi seni leluhur masyarakat Dompu.

“Ini adalah kebanggaan seluruh masyarakat Dompu dan harus dijaga dengan baik bahkan patut untuk disosialisasikan kepada dunia,” harap Suharlin. (tof/sib/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here