Memahami Arti Sebuah Kebosanan

Ilustrasi bosan (dok/shopee)

JYBMedia: Ketika rasa bosan menghampiri, kita berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi berikutnya dan membuka media sosial tanpa jeda. Kebanyakan dari kita tidak meluangkan waktu untuk berpikir, tetapi lebih asyik menekan tombol “Beli Sekarang” dengan satu klik.

Menurunnya rasa kebosanan dapat merusak kemampuan kita dalam berpikir. Dan jika kita tidak meluangkan waktu untuk berpikir, kita tidak dapat mempertanyakan apa yang kita percayai. Seiring waktu, otot berpikir kritis kita mulai berhenti tumbuh kalau tidak digunakan.

Korban lain dari dunia tanpa “beranda” media sosial adalah kreativitas. Ada pepatah yang saya suka mengatakan, “Keheningan di antara not-not itulah yang menghasilkan musik.” Keheningan, yang dihasilkan oleh kebosanan, adalah yang mendorong inovasi dan mengkatalisasi pemikiran kreatif.

Bahkan saat tampaknya tidak bekerja, otak masih aktif. Saat Anda bosan, alam bawah sadar Anda masuk dan mulai membentuk koneksi baru.
Inilah sebabnya mengapa banyak orang kreatif dan pengusaha memuji kebosanan atas kesuksesan mereka.

“Ide datang dari lamunan,” penulis Neil Gaiman menjelaskan. “Mereka datang dari kebosanan, saat ketika Anda hanya duduk di sana.” Ketika orang meminta nasihat Gaiman tentang bagaimana menjadi penulis, jawabnya dengan sederhana, “Bosan.”

Bahkan Stephen King pun setuju. Dia percaya bahwa kebosanan bisa menjadi hal yang sangat baik untuk seseorang yang sedang ingin menjadi kreatif.

Selama perjalanan kereta yang membosankan, ide untuk Harry Potter “jatuh begitu saja” ke kepala JK Rowling.

Hobbit juga lahir dari kebosanan. Saat Profesor Tolkien sedang menilai pekerjaan para muridnya, bosan dengan pikirannya, dia menulis di salah satu kertas ujian, tanpa alasan yang jelas, dia menuangkan kalimat, “Di dalam lubang di tanah, hiduplah seorang hobbit.” Begitulah kalimat pembuka untuk The Hobbit disusun.

Banyak contoh lainnya. Phil Knight, salah satu pendiri Nike, memiliki kursi di ruang tamunya yang didekasikan untuk melamun. Albert Enstein percaya bahwa, “Karunia fantasi lebih berarti bagi saya daripada bakat saya untuk menyerap pengetahuan positif.”

Baca juga:  Ingin Pelihara Ikan Cupang ? Siapkan Peralatan Ini!

Dalam kutipan lain yang tak terlupakan, George Bernard Shaw berkata, “Sedikit orang yang berpikir lebih dari dua atau tiga kali setahun. Saya telah membuat reputasi internasional untuk diri saya sendiri dengan berpikir sekali atau dua kali seminggu.”

Mengikuti jejak para “dalang” itu, saya memutuskan untuk menghidupkan kembali percintaan saya yang telah lama hilang dengan kebosanan. Saya mulai dengan sengaja membangun waktu dalam hari saya yang akan saya sebut “Mode Pesawat”, yaitu ketika saya duduk di kursi “malas” tanpa melakukan apa pun selain berpikir dan melamun.

Saya bisa menghabiskan ini selama 25 menit, empat hari seminggu, di tempat yang sama, dengan hanya membawa pena dan kertas di tangan. Sangat aneh untuk dilakukan? Iya. Tapi beberapa gagasan terbaik versi saya banyak lahir dari suasana yang sunyi dan mencekik itu.

Ketika saya melihat momen-momen paling kreatif saya, mereka sering jatuh saat saya dalam keadaan paling bosan: ketika saya terjebak di rumah sendirian, mendengarkan curhatan orang-orang yang sangat membosankan, di waktu ketika saya tidak mendapatkan penerimaan notifikasi dari media sosial, atau saat berjalan-jalan sore dengan tenang dan damai.

Saya merasa sangat senang bisa merangkul kebosanan, membiarkan diri melamun beberapa saat, menikmati keheningan untuk menjernihkan pikiran.

Kita tidak begitu bosan dibandingkan nenek moyang kita sebelumnya, tetapi kita lebih takut pada kebosanan. Kita menjadi tahu, atau lebih tepatnya untuk percaya, bahwa kebosanan bukanlah bagian dari sifat alami manusia, tetapi dapat dihindari dengan mengejar kegembiraan yang cukup kuat. — Bertrand Russell

Saat ini, dalam paradigma kita, kebosanan sering kali dipandang sebagai hal yang benar-benar tidak dapat dimaafkan—semacam dosa dari kemalasan—yang hanya dilakukan oleh mereka yang malas atau tidak sukses. Namun, itu adalah emosi vital yang membantu Anda untuk mengembangkan kreativitas, kontemplasi, dan kedamaian.

Baca juga:  Dampak Positif Buang Sampah Pada Tempatnya

Penting bagi pikiran kita untuk menjadi bosan.
Beberapa minggu yang lalu, saya menghapus aplikasi-aplikasi yang selalu mengalihkan perhatian saya: Instagram, Facebook, Twitter, game; hanya untuk memaksa diri saya merasa bosan.

Saya mencoba melepaskan hal-hal yang biasanya saya gunakan untuk “mengisi kebosanan”. Saya ingin belajar menjadi baik-baik saja ketika kebosanan mulai menjadi.

Saya tidak melakukan ini untuk menjadi lebih produktif. Saya melakukan ini untuk memberi otak saya istirahat yang sangat dibutuhkan.
Saya melakukan ini untuk memaksa diri saya menjadi bosan. Memang sulit, tetapi beberapa wawasan terbaik saya banyak datang dari kebosanan, mendengarkan pikiran saya, dan mengamati sekeliling saya.Begitulah alasan saya untuk bosan.

Saya tidak percaya ada yang salah dengan membiarkan pikiran Anda beristirahat, tetapi saya percaya kita harus lebih sadar akan kebutuhan kita yang terus-menerus mengeluarkan diri dari keheningan dalam rasa bosan. Kita terus-menerus mencari pelarian dalam kehidupan.

Saya tidak berharap Anda menghapus semua aplikasi di ponsel Anda hari ini (meskipun itu akan luar biasa), tetapi saya ingin Anda menyadari respon alam bawah sadar Anda terhadap kebosanan.

Ketika Anda sendirian di rumah, menunggu seseorang yang tak kunjung datang, daftar kegiatan yang sudah habis, atau di waktu lain saat Anda merasa bosan, sadari apa tanggapan awal Anda. Apakah Anda segera mengambil ponsel Anda? Atau mengisi keheningan dengan berbicara? Sadarilah hal ini dan biarkan dorongan itu berlalu.

Saat Anda merasa kebosanan muncul, tahan godaan untuk menerima notifikasi media sosial. Alih-alih melakukan itu, lebih baik lakukan apa yang Anda lakukan saat berusia enam tahun: Peluklah kebosanan dan mulailah melamun. Dan jangan berlebihan!

Jadi, jika lain kali Anda ingin meraih ponsel ketika merasa bosan, coba tahan sejenak dan biarkan pikiran Anda mengembara. Siapa yang tahu tentang ide bagus selanjutnya yang akan Anda dapatkan dari keheningan itu?
Segi positif dari tidak melakukan apa-apa adalah hal ini mengajarkan kita untuk menjernihkan pikiran dan bersikap rileks. Ini memberi pikiran kita kebebasan untuk “tidak mengetahui” selama beberapa waktu.

Baca juga:  Menakjubkan, Manfaat Air Wudhu Subuh

Seperti halnya tubuh, pikiran juga kadang-kadang membutuhkan istirahat dari kesibukannya yang terus-menerus. Bila kita membiarkan pikiran kita beristirahat, pikiran itu akan kembali lebih kuat, lebih tajam, serta lebih terfokus dan kreatif.
Bila membiarkan diri merasa bosan, kita akan terlepas dari sejumlah besar tekanan untuk melakukan sesuatu setiap detik, setiap hari.

Sekarang, bila seorang teman saya berkata, “Ndi, aku bosan,” saya membalasnya dengan berkata, “Bagus, bosan saja sebentar. Itu baik untukmu.” Bila saya berkata demikian, dia tak lagi meminta saya untuk mendengarkan semua curhatannya itu.

Anda mungkin tak pernah berpikir seseorang akan menyarankan Anda untuk merasa bosan. Saya pikir, selalu ada yang pertama untuk segala hal.
Terkadang, kita lupa tentang kekuatan yang hanya datang dalam keheningan.

Jika Anda sudah terbiasa dan nyaman melakukannya, hasilnya akan mengejutkan Anda.
Sisi positif lainnya dari kebosanan adalah tentang memperdalam suatu pengalaman.

Ketika saya ingin bisa menulis tulisan yang menarik, maka saya akan membaca buku-buku serupa sampai saya merasa bosan; hingga saya mendapatkan apa yang saya cari. Dengan kebosanan mencari, saya mengetahui tentang bentuk-bentuk tulisan yang menarik dan tidak membosankan untuk dibaca.

Jika Anda ingin menjadi penyanyi, cobalah untuk berlatih; Ya, berlatih sampai bosan. Tak peduli teman-teman Anda mengajak nongkrong di cafe atau mengajak berbelanja di mal, tetaplah berlatih vokal.

Dan jika Anda merasa stres, cobalah untuk melakukan “seni menjadi bosan” seperti yang saya paparkan di awal—mencari keheningan dan mulai mengistirahatkan pikiran.

Itulah poin utamanya. Anda diminta untuk terus berlatih sampai bosan. Terimalah kebosanan. Peluklah kebosanan itu. Cintailah kebosanan itu.(*/)

sumber: Kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here