KUNINGAN – JYBMedia: Pengobatan alternatif di tengah pandemi Covid-19 saat ini kian membumi, banyak orang yang memiliki rasa takut untuk memeriksakan dirinya ke pusat kesehatan layanan masyarakat.

Ada banyak faktor yang membuat mereka enggan memeriksakan diri ke Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, di antaranya takut terpapar Covid-19 oleh pasien lainnya, selanjutnya khawatir akan divonis covid-19.

Hal itu dialami oleh Andriawan warga Pasapen saat menceritakan kondisi kesehatan yang dialami ibunya.

“Ibu saya saat ini sedang tidak enak badan, tapi tidak mau dibawa ke puskesmas atau dokter, karena ibu saya memiliki rasa takut. Takut divonis Covid-19, padahal hanya pilek biasa, jadi saya mau ke apotek dulu, untuk beli obat, dan nanti ia dipijat agar badannya lebih enak,” tuturnya.
Menurutnya, pengobatan alternatif saat ini menjadi primadona di masa pandemi Covid-19.

“Karena kan banyak orang yang takut, termasuk saya, jadi saya lebih memilih ke pengobatan herbal dan alternatif, seperti pijat syaraf, terapi listrik , dll,” jelasnya, seperti dilaporkan mimbar-rakyat.com grup siberindo.co, jaringan jybmedia.com, Sabtu (20/2).

Hal yang sama juga dirasakan oleh Nanang, saat ia mengalami influenza, tak jarang saat kondisinya tengah drop, rekan – rekan kerja kerap menjauhinya dan menjudge ia terkena Covid-19.

“Saya lagi influenza, karena kehujanan dua hari berturut-turut, terus teman – teman saya menjaga jarak, padahal saya sudah bermasker,” ujarnya.

Hal itulah yang membuat ia enggan memeriksakan diri ke pusat kesehatan layanan masyarakat.

” Ya untuk mengobati diri sendiri, saya minum vitamin C dengan dosis 1000 mg per hari, dan parasetamol untuk menghilangkan rasa pusing di kepala,” katanya.

Tak hanya itu, Nanang pun memilih untuk pergi ke pengobatan alternatif, seperti terapi bekam, dan pijat.

Baca juga:  Cegah Covid-19, Penjual dan Pembeli di Pasar Kabupaten Kediri Wajib Pakai Masker

Terapi listrik

Maraknya warga yang beralih ke pengobatan alternatif, turut dirasakan pula oleh terapis pengobatan listrik, yakni Kholikin dari Padepokan Galuh Nusantara, Desa sindangsuka, Kecamatan Luragung.

Kholikin menuturkan, terapi listrik yang digelutinya sejak tahun 2015, kini mulai diminati masyarakat dari berbagai kalangan. “Yang datang bervariasi yang muda ada, juga dari usia 45 tahun ke atas banyak,” ungkapnya.

Menurutnya terapi listrik dapat meningkatkan imun tubuh dan vitalitas bagi pria. “Untuk meningkat vitalitas bisa dilakukan secara rutin minimal dua sampai tiga kali terapi, kalau yang struk diterapi basah dulu, baru disetrum, jadi ibarat selang kalau udah lumutan dibersihkan dahulu,” ungkapnya.

Penyakit berat yang pernah Ia tangani adalah struk, berdasarkan pengalamannya penyakit tersebut bisa sembuh seratus persen apabila pasien menderita sakit struk dalam waktu kurang dari satu tahun.

“Selain itu pasien yang bisa sembuh seratus persen biasanya berusia masimal 30 tahun, karena di masa usia segitu, biasanya peredaran darahnya masih bagus,”ujarnya.

Kemudian, rentan usia 30 tahun hingga 45 tahun, prosentase kesembuhan sebesar 70 persen, untuk yang lebih tua lagi maka prosentase kesembuhannya lebih kecil.

“Dan itu tergantung dari tingkat optismisme pasien sendiri, kalau pasiennya sudah merasa pesimis, mungkin untuk sembuhnya juga lama,” katanya.

Awalnya Kholikin, membuka pengobatan alternatif tersebut memiliki keinginan untuk membantu orang karena asam urat dan struk. Pengobatan alternatif yang ia geluti tidak hanya terapi listrik, namun pasien juga akan dilayani dengan pengobatan herbal seperti bekam basah, hypnoterapi, dan olah energi sulbi.

“Kenapa ada olah energi sulbi atau tulang ekor, sebab dibentuknya manusia berawal dari tulang ekor, dari mulai hidup sampai meninggal itu dari tulang ekor, jadi energi sulbi sangat bisa dimanfaatkan dan didayagunakan untuk meningkatkan kualitas hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” jelasnya.(dien/arl/sib)

Baca juga:  Sulap Kotoran Hewan Jadi Pupuk Kompos Organik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here