Tradisi Mengeringkan Waduk Disambut Antusias Warga Lhokseumawe

(ist)

LHOKSEUMAWE – JYBMedia: Waduk Desa Seuneubok, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe dikeringkan untuk mengairi sawah yang saat ini kekeringan karena musim kemarau.

Pengeringan yang dimulai Jumat lalu (26/2) ini, disambut riang warga desa setempat untuk memanen ikan di dalam waduk itu sepuasnya atau tanpa dibatasi

Warga berbondong-bondong datang memanfaatkan waduk yang telah mengering untuk mengambil ikan.Sebagian besar ikan-ikan itu sudah besar mencapai setengah kilogram.

Syarwan (37), warga kawasan itu mengatakan kwaduk tersebut memang menjadi tempat penampungan air untuk mengairi sawah.

Pengeringan waduk biasanya dilakukan satu atau dua kali dalam setahun.

Syarwan menjelaskan, setelah dilakukan pengeringan waduk, warga belum diperbolehkan menangkap ikan, sebelum adanya pengumuman dari perangkat desa.

Sesi penangkapan ikan yang tanpa dibatasi jumlahnya berlangsung sehari saja.

“Cuma sehari saja, untuk hari ini dibuka mulai pukul 14.00 WIB hingga sore menjelang Magrib,” kata Syarwan.

Syarwan menyebutkan, bahwa dalam sesi penangkapan ikan di waduk Seuneubok tersebut tidak hanya dilakukan oleh warga Desa Seuneubok saja.Tetapi, juga warga desa tetangga.

“Panen ikan yang sudah menjadi tradisi tahunan ini bisa mencapai satu ton lebih setiap panennya.

Alhamdulillah hari ini saya bisa panen ikan kurang lebih lima kilogram,” papar Syarwan.

Syarwan mengatakan, tradisi ini menjadi berkah bagi warga sekitar waduk di musim kemarau, di samping juga menjadi hiburan tersendiri bagi warga.

Hasil panennya rata-rata untuk konsumsi sendiri dan ada juga yang dijual karena banyaknya hasil tangkapan warga.

“Ini sudah menjadi hiburan tahunan bagi warga sekitar waduk Seuneubok. Kalau dapat ikan kan pasti senang,” tambah Syarwan.

Tradisi tangkap ikan ini selain diikuti oleh orang dewasa juga diikuti anak-anak, karena kedalaman waduk setelah dikeringkan hanya sekitar satu meter saja.

Baca juga:  Ragam Tradisi Sambut Tahun Baru Islam di Indonesia

“Mereka biasanya membawa peralatan tangkap ikan seadanya, seperti jala, jaring yang dibingkai bambu dan jaring sampah. Bahkan ada yang memakai ember,” terangnya.

Kemudian, sebagian anak-anak juga tidak hanya mencari ikan, tetapi juga asik bermain air bercampur lumpur. (*/cr2).

sumber: serambinews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here