Mengenal Mbah Samson, Perintis Warung Angkringan Khas Bayat

(ist)

MUNGKIN inilah salah satu dari sedikit saksi sejarah warung angkringan khas Bayat, Kabupaten Klaten. Dialah Mbah Samson, kakek 75 tahun yang masih setia jualan angkringan di daerah Cawas, Klaten ini memulai jualan sejak masih muda, kira-kira tahun 65-an. Mulai jualan sejak masih lajang, di daerah Kerten, Surakarta.

“Dulu masih memakai pikulan, belum memakai grobak dan mangkal seperti sekarang ini,” tuturnya saat ditemui di tempat jualannya.

Ayah dari empat orang anak ini mengaku jualan angkringan atau HIK menggunakan tenong diberi kaki kemudian dipikul keliling Solo. Dikisahkannya dulu dia bersama 30 orang temannya menyewa rumah di daerah Kerten, Surakarta.

“Tiga puluh orang itu semua jualan HIK keliling setiap malam. Kebanyakan memang berasal dari mbayat,“ ujarnya.

Dulu menurutnya HIK itu belum atau tidak jualan wedang atau minuman, pertamanya. Jadi keliling hanya membawa nasi, berbagai gorengan dan makanan khas waktu itu.

“Dulu kalau keliling sambil teriak. Gilho….. Gilho….. Baru kemudian, berkembang dengan memikul kotak yang bisa membawa pemanas berupa angglo untuk menghangatkan air. Sejak saat itu teriaknya berubah menjadi hik….. hik….. hik….. dari situ kemudian, dinamakan wedang HIK. Dari situlah sejarah nama wedangan HIK,” ungkapnya sambil mengisap rokok kreteknya.

Jualan HIK di Solo ditekuninya sampai 1973, dan kemudian berhenti karena tahun yang sama pria yang sudah memutih rambutnya ini memutuskan untuk menikahi gadis desa pilihannya.

“Waktu itu saya memilih berhenti, jualan warung kelontong di rumah bersama istri sambil jualan wedangan,“ paparnya.

Selanjutnya karena demi perjuangan membiayai keluarga, mbah Samson ini memilih jualan di Cawas, atau tepatnya pertigaan antara Cawas – Semin – Watu kelir. Meski sudah cukup berumur laki-laki yang sumeh ini setiap hari menyiapkan segalanya sendiri. Mulai dari membuat nasi bungkus, memasak, membuat gorengan dan lain sebagainya.

Baca juga:  Terhimpit Ekonomi, Ribuan Pekerja Sor Terop di Kediri Gelar Unjuk Rasa

“Setiap jam setengah empat pagi saya sudah berangkat dan mulai menyiapkan dagangan berupa gorengan dan memasak. Memang ada sebagian yang saya siapkan dari rumah, tetapi lebih banyak yang saya siapkan di tempat saya jualan. Pokoknya tidak mengenal panas atau hujan, setengah empat pasti saya sudah berada di tempat,” ungkapnya sambil membuat teh panas untuk tim liputan Wiradesa.co grup siberindo.co jaringan jybmedia.com, Rabu (24/3/2021)

Rahasia Teh Ginastel

Dari sekian banyak dagangan di wedangan HIK memang tak dapat dipungkiri andalannya adalah wedang teh ginastel. Jika di Jawa Timur terkenal kopinya, maka HIK dari Bayat ini terkenal teh ginastelnya. Hebatnya rasanya tidak mudah ditiru. Bagi penikmat teh pasti bisa membedakan antara teh yang dibut oleh orang Bayat dan bukan orang Bayat. Dan, ternyata memang ada rahasianya. Ketika didesak untuk menceritakan apa rahasianya mbah Samson hanya menjawab,

“Wah niku rahasia” aku Mbah Samson.

Tetapi tak urung laki-laki yang pernah menjadi santri di Tebu Ireng, Jawa Timur ini akhirnya mau juga memberikan tips-tipsnya, setelah didesak.

“Yang menentukan enak dan tidaknya teh itu ada beberapa hal, ada masalah kualitas air, merek teh, dan cara merebus airnya,“ tuturnya sambil menghela napas dalam-dalam.

Diceritakannya bahwa kualitas air atau sumur di mana mengambil air mentahnya sangat berpengaruh. Mulai dari daerah berkabut, atau dari mata air yang mengalir atau sumur gali.

“Menurut saya yang paling sulit itu mengolah rasa teh yang airnya menggunakan air PMI,“ tuturnya.

Sementara air dari daerah yang berkapur sangat sulit muncul rasa tehnya.

“Daerah yang berkapur itu memang sulit juga untuk menguatkan rasanya. Tidak mudah untuk menjadi kental dan muncul rasanya,“ katanya sambil menghembuskan asap rokoknya.

Baca juga:  Gedung Kejagung RI Terbakar

Hal lain yang mempengaruhi adalah saat kapan teh itu dicampur dengan air.

“Apakah dicampur sejak air masih dingin, setengah matang atau airnya sudah mendidih, itu juga mempengaruhi rasanya,“ ungkapnya sembari memperbaiki posisi plastik penutup makanan HIK di warungnya.

Selanjutnya adalah, setiap peramu teh harus mengenali dengan baik karakter teh masing-masing merk.

“Karena ada teh merk tertentu yang hanya wangi, tahu sepet saja bahkan hanya memunculkan warna merah saja. Padahal enak tidaknya teh bukan hanya wangi, sepet dan merah saja,“ tegasnya.

Tak urung, laki-laki berkumis ini dengan murah hari mau berbagi rahasia teh menurut daerah masing-masing. Misalkan saja untuk daerah Jogjakarta merk teh yang cocok adalah merk Tang dan Catut. Sementara untuk daerah Gunung Kidul lebih cocok menggunakan teh cap Padi. Sedangkan di Solo teh cap 99 dan sepeda balap tebih baik. Sedangkan untuk daerah Boyolali teh yang cocok adalah cap Dandang, Gardu dan Jenggot. Sedangkan teh untuk air mineral, yang cocok adalah cap Nyapu Pecut dan Catut.

Penglaris

Pria kelahiran dusun Ngerangan Desa Sidoarjo, Kecamatan Bayat, Klaten yang sudah kenyang makan asam, garam dan sambel ini mengakui saat dari dulu sampai sekarang banyak penjual apa pun termasuk warung wedangan yang menggunakan bantuan dukun. Atau yang banyak dikenal dengan bantuan penglaris. Maka tidak heran kadang di kalangan pedagang kemudian dikenal dengan bandem-bandeman menyan (lempar-lemparan kemenyan).

“Kalau serangan semacam itu saya sudah sering. Ada pernah di tempat saya jualan ditebari tanah kuburan. Ada juga yang membakar kain kafan bekas pembungkus jenazah,“ tuturnya. Tetapi menurutnya, itu semua bisa diatasi sendiri tanpa harus mencari bantuan ke dukun atau para normal.

Menurutnya lebih baik dikuatkan doa dan tirakatnya dari pada meminta bantuan dukun.

Baca juga:  Meski Penderita DB Menurun, Dinkes Himbau Tetap Waspada

“Kalau pakai bantuan dukun nanti ujung-ujungnya jualannya kacau,“ tuturnya sambil menambahkan arang di tungkunya. Katanya sejak ritual puasa dan berpantang dan berdoa serta salat tidak pernah ditinggalkannya, bahkan ketika sedang tidak ada pembeli, mbah Samson memilih untuk berwirid.

Ingin Tetap Membantu

Pengalamannya berjualan HIK memang tidak bisa diragukan lagi. Ilmu yang dimilikinya sudah diwariskan kepada anaknya yang berjualan di Boyolali. Diceritakannya saat ini warung HIK anaknya yang di Boyolali ada dua tempat.

“Masing-masing menggunakan karyawan lebih dari tiga orang. Alhamdulillah anak saya sudah bisa umrah, menyekolahkan anaknya sampai lulus ITB dan dapat beasiswa ke Belanda. Kemarin sudah bisa ngreyen Pajero,” tuturnya sambil mengusap kumisnya. Memang luar biasa, anaknya meskipun hanya jualan HIK tetapi sudah bisa beli rumah sendiri, kendaraan mobil dua, termasuk Pajero.

Sebenarnya tahun kemarin anaknya akan mengembangkan jualan HIK di Jakarta.

“Kemarin sudah dikirim 15 unit gerobak untuk jualan HIK. Tetapi, karena ada korona terpaksa ditunda dulu,“ ujarnya.

Mbah Samson juga menceritakan, cucunya ada yang jualan di Solo, dan Kartasura.

“Anak sekarang ini berani, bagaimana tidak untuk sewa tempat aja tahun pertama itu 60 juta rupiah per tahun, kemudian tahun kedua menjadi 69 juta rupiah per tahun. Tetapi, mereka tetap berani dan masih untung juga,“ ujarnya.

Makanya sesungguhnya mbah Samson ini oleh anak dan cucunya sudah tidak boleh jualan lagi. Tetapi, karena masih bersemangat dan warung HIK adalah kesenangannya, maka dia tetap jualan.

“Saya ini masih ingin jualan, karena saya masih ingin bisa membantu orang lain dari hasil keringat saya sendiri. Ya membantu fakir miskin dan orang yang tidak mampu lainnya,“ tuturnya sambil pamit Salat Dhuhur. Mbah Samson dikenang sebagai salah satu perintis angkringan khas Bayat.(*/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here