Mengenal Sosok Ipin, Penggiat Perpustakaan Alam Integrasi Interkoneksi

Anak-anak belajar berkarya di Perpustakaan Alam Integrasi Interkoneksi (wiradesa.co)

KEBUMEN – JYBMedia: Menyandang gelar sarjana kemudian kembali lagi ke masyarakat. Berkomitmen menerapkan ilmu sosial yang dipelajari selama di perkuliahan akhirnya, Nur Arifin mendirikan perpustakaan alam. Perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan Alam Integrasi Interkoneksi.

Berdiri sejak tiga tahun ini, perpustakaan alam integrasi interkoneksi mengajak berpikir untuk maju. Menurut Nur Arifin atau biasa disapa Ipin, keberadaan perpustakaan dipetakan terlebih dahulu. Kemudian diberi nama ruang publik berguna untuk kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, penamaan tersebut dirasa kurang tepat. Akhirnya diberi nama Perpustakaan Alam Integrasi Interkoneksi.

Makna dari nama yakni perpustakaan alam yang memiliki sumber pengetahuan alam/ilmiah yang ada di desa.

“Lalu diterapkan dengan konsep integrasi interkoneksi yang memiliki kesan berbeda dengan perpustakaan lain. Fokusnya tidak hanya ke perpustakaan saja tetapi juga ada kelas dan kegiatan pengembangan lain. Tentunya kegiatan pasti ada yang dilakukan di alam,” urai Ipin yang juga lulusan UIN Jogja, Jurusan Sosiologi Agama kepada, wiradesa.co grup siberindo.co jaringan jybmedia.com, belum lama ini. Perpustakaan alam integrasi interkoneksi menyajikan air terjun, goa dan hamparan persawahan. Suasana tersebut, menjadi nyaman untuk belajar dan mengajar.

Lokasinya berada di Jalan Jatisawit, RT 1 RW 1, Desa Mergosono, Kecamatan Buayan, Kebumen. Seperti diceritakan, perpustakaan alam juga ada kelas seperti kelas bermain, kelas inspirasi dan kelas karya. Dijelaskan olehnya, kelas bermain anak-anak belajar sambil bermain. Kelas inspirasi, anak-anak diberikan pengetahuan tentang tokoh inspirasi serta menciptakan tokoh inspirasi. Untuk kelas karya, anak-anak diajari untuk berkarya.

“Karya antara lain jamu geprek, tanaman hias,” imbuh Ipin yang bekerja sebagai pendamping sosial dari dinas sosial yang penempatannya di Kecamatan Buayan. Jadi, anak-anak diberi ilmu pengetahuan tentang proses pembuatan sebuah produk seperti pembuatan lampion dari botol bekas, melukis serta pembuatan jamu tradisional.

Baca juga:  Usaha Bengkel Kian Terpuruk Ditengah Pandemi Covid-19

Selain ada kelas-kelas, ada juga kegiatan pengembangan lain. Sekolah desa, memiliki tujuan untuk belajar ilmu pemerintahan desa, kebijakan pengembangan. Sasarannya yakni pemuda, orang tua serta masyarakat umum. Ajang hotmil Al-Qur’an, dilakukan sebulan sekali, tujuan utama ibu-ibu. Berikutnya Al-Barzanji. Ada juga kelompok perikanan. Namanya Margo Manunggal memelihara ikan lele, mujair.

Perpustakaan alam integrasi interkoneksi melakukan beberapa kerja sama antara lain dengan Stikes Muhammadiyah Gombong, pembuatan plang dibantu SMK Ma’arif 1 Kabumen, UMNU Kebumen dibantu juga oleh masyarakat sekitar. Sampai sejauh ini perpustakaan sangat menginspirasi.

“Kepala Dinas Perpustakaan Kebumen sangat mengapresiasi gerakan pemasyarakatan yang diwujudkan lewat ilmu perpustakaan ini,” ungkapnya.

Literasi itu penting bagi semua orang. Oleh sebab itu, pahamilah literasi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Jangan lupa belajar, bermain dan berkarya. Semakin banyak literasi, generasi akan terus berkembang. Bukan hanya lewat perpustakaan saja. Namun bisa juga dengan TPQ atau gerakan pemasyarakatan l lain.(*/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here