Melihat Tradisi Leka-Leka di Malteng yang Masih Terjaga

Ilustrasi Tradisi Leka-Leka Wae

AMBON – JYBMedia: Tradisi Leka-Leka Wae masih terus berjalan di Negeri Hila Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Tradisi Leka-Leka Wae adalah tradisi menjelang buka puasa sejak dahulu di Negeri Hila.

Menariknya, Tradisi tersebut masih tampak di pekarangan Masjid Jami Hasan Sulaiman Ulihalawang Hila.

Leka-leka Wae berupa penggalan kata dari lagu berbahasa daerah Negeri Hila yang sering menggema di pelataran masjid negeri setempat sejak pukul 18:00 WIT hingga penghulu masjid memukul beduk tanda magrib tiba atau sekira pukul 18:28 WIT.

Panjangnya yakni “Leka-leka wae antuni magarib aholo tum puka e,” yang jika di artika ke indonesia artinya “Cepat-cepat sudah pukul beduk tanda magrib dan kita berbuka puasa.”

“Ini soal penyampaian kabar ke keluarga bahwa sudah waktunya berbuka puasa, tradisi ini telah dilakukan sejak zaman baheula oleh para leluhur kami di Hila,” kata seorang tokoh adat setempat, Zulkarnain.

Dia menerangkan, lantunan Leka-Leka Wae tersebut bukan dinyanyikan para remaja atau orang tua, melainkan terdiri dari anak-anak usia lima hingga 12 tahun, pakaian yang dikenakan juga tak ditekankan untuk serasi.

“Asal rapi, langsung bisa bergabung. Soal suara tak jadi ukuran,” ujarnya sebagaimana dikutip tribunambon.com.

Manakala waktu sudah menunjukan pukul 18:24 misalnya, bocah-bocah itu sudah melepaskan alas kaki dan memegangnya.

Hal ini dilakukan agar ketika beduk berbunyi, mereka bisa berlari dengan cepat untuk memberitahukan kepada keluarga di rumah.

Menurutnya, setiap warga Hila tetap akan merasakan berada pada masa-masa ini, sebab mereka percaya, dengan merawat tradisi, maka tak akan pernah hilang jati diri.

“Sampai hari ini masih ada, semoga ini berlanjut sampai ke generasi-generasi berikutnya,” harap Zulkarnaen. (*/)

Baca juga:  Lestarikan Budaya, Band Metal Asal Kota Kediri Usung Lirik Budaya Jawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here