Memahami Kesalahan Ortu yang Bisa Merusak Harga Diri dan Percaya Diri Anak

Ilustrasi orang tua dan anak

JYBMedia: Self-esteem atau harga diri mengacu pada cara kita melihat diri sendiri, yang membentuk perilaku dan keputusan kita. Memiliki harga diri yang kuat mendorong kita untuk mau melewati tantangan, mencoba hal baru, dan percaya pada diri sendiri.

Sebagai orangtua, kita tentunya harus berusaha sebaik mungkin untuk menumbuhkan harga diri yang positif pada anak-anak. Namun, terkadang tanpa sengaja kita membuat kesalahan yang memengaruhi harga diri anak-anak secara negatif. Bagaimanapun, kita hanyalah manusia yang bisa membuat kesalahan. Karenanya, kita tidak boleh berhenti belajar dan harus mau memperbaiki kesalahan kita sebagai orangtua.

Lalu apa saja kesalahan orangtua yang bisa merusak harga diri dan kepercayaan diri anak? Berikut ulasan yang dirangkum dari laman Psychology Today dan CNBC.

Kesalahan Orangtua yang Kerap Dilakukan pada Anak

Nah, berikut ini adalah kesalahan orangtua yang kerap tidak disadari bisa merusak kepercayaan diri anak:

1. Berteriak dan memukul

Saat berteriak dan memukul, kamu menunjukkan kontrol impuls yang buruk yang bertujuan melemahkan anak. Pikirkan baik-baik, apa yang ingin kamu sampaikan dengan cara seperti itu?
Membuat anak takut dan menyerah melalui teriakan dan pukulan seharusnya tidak boleh membuat kamu merasa bangga. Kamu perlu menyadari bahwa apa yang kamu lakukan sama seperti menindas anak-anak. Meskipun mungkin teriakan tampak berhasil menghentikan perilaku ofensif anak, namun ini hanyalah perbaikan jangka pendek, dan kamu lebih membuat mereka merasa dikucilkan.Orangtua yang suka berteriak dan memukul mengganggu kemampuan anak untuk melakukan percakapan yang konstruktif untuk memecahkan masalah, mengatasi konflik, dan membangun harga diri.

2. Mengungkit konflik masa lalu

Setelah masalah atau konflik anak berhasil terselesaikan, jangan mengungkitnya lagi di kemudian hari. Orangtua yang mengungkit kesalahan anak di masa lampau sama seperti mengajarkan anak untuk menyimpan dendam dalam jangka waktu yang lama.

Baca juga:  Intip Yuk, Cara Pakai Sheet Mask

Selain itu, anak-anak perlu diberi pemahaman bahwa begitu suatu masalah diselesaikan, itu menjadi bagian dari masa lalu. Semakin seorang anak diperkuat dengan perilaku dan pilihan positif di masa depan, maka perasaan mereka tentang diri mereka sendiri menjadi semakin baik. Dan secara alami, mereka cenderung tidak akan mengulangi pilihan buruk yang mereka lakukan di masa lalu.

3. Mencegah anak melakukan kesalahan

Memang, kadang rasanya sulit jika melihat anak gagal, ditolak, atau mengacaukan sesuatu. Oleh karena itu, tak sedikit orangtua yang dengan sigap menyelamatkan anak-anak sebelum mereka jatuh atau bahkan mencegah anak melakukan sesuatu. Namun, mencegah anak melakukan kesalahan sama dengan merampas kesempatan mereka untuk belajar bagaimana bangkit kembali.

Apapun kesalahan yang anak perbuat, ini bisa menjadi guru terbesar dalam hidup. Tiap kesalahan yang telah mereka lakukan adalah kesempatan bagi mereka untuk membangun mental yang lebih kuat.

4. Mengharapkan kesempurnaan

Harapan yang tinggi memang sehat dan bisa menjadi penyemangat, namun berharap terlalu banyak memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Saat anak-anak diberi ekspektasi terlalu tinggi, mereka mungkin tidak mau repot-repot mencoba atau merasa tidak akan pernah memenuhi harapan. Alih-alih membebani anak dengan ekspektasi yang terlalu tinggi, berikan ekspektasi yang jelas untuk jangka panjang dan tetapkan pencapaian di sepanjang jalan.

5. Bersikap terlalu protektif

Tentu, selalu melindungi anak membuat orangtua terhindar dari rasa cemas. Namun, menjaga mereka tetap terisolasi dari tantangan justru akan menghambat perkembangan mereka. Bahkan, ini membuat anak menjadi takut mencoba hal baru.

Pandang dirimu sebagai pemandu, bukan pelindung. Biarkan anak-anak mengalami realita hidup. Dengan begitu, kamu akan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan pada kemampuan mereka untuk menghadapi apa pun yang terjadi dalam kehidupan.

Baca juga:  10 Tahun Menanti, Irwansyah Akhirnya Dapat Momongan

Cara orangtua berinteraksi dengan anak memainkan pengaruh besar dalam membentuk rasa penghargaan diri anak seiring waktu. Semakin sering kamu berkomunikasi secara positif dan bertanggung jawab atas setiap perilakumu, semakin kamu dapat membantu anak membentuk kepercayaan diri dan rasa harga diri yang baik dalam prosesnya.(*/)

Sumber: Guesehat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here