Dalang Asli Pribumi Mainkan Wayang Po Tay Hie, Kok Bisa ?

Sugiyo Waluyo, seorang Dalang kesenian Wayang Po Tay Hie, saat mementaskan aksinya.

Siapa sangka, pagelaran Wayang Po Tay Hie atau wayang boneka sarung tangan kesenian tradisional warga Tionghoa dipentaskan oleh Dalang asli pribumi

Adalah Sugiyo Waluyo, seorang Dalang kesenian Wayang Po Tay Hie, berkisar tiga bulan akan mementaskan aksinya di halaman Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Jalan Yos Sudarso No.148, Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, Jawa Timur.

Saat mementaskan beberapa cerita dari daratan Negeri Cina, Sugiyo Wlauyo dibantu seorang asisten dan dua pemain pengiring musik, berupa terompet, tambur, gembreng, kecer, simbal, dan rebab. Hal ini, menambah keunikan serta kesakralan pagelaran wayang, yang dimainkan kedalam sebuah tobong atau kotak,berukuran 4×4 meter.

Sugiyo Waluyo, Dalang Wayang Po Tay Hie, menceritakan, berawal sejak kecil, kegemarannya melihat pertunjukan Wayang Po Tay Hie di kampung halamannya di Kota Surabaya. Lalu, tahun 1972, memulai menjadi asisten Dalang kemudian pengiring musik tabur, hingga gembreng dan terompet.

” Dari situ, berlanjut menjadi Dalang wayang pada tahun 1994 hingga sekarang. Ketertarikan saya dalam kesenian Po Tay Hie, lantaran tepat didepan rumah saya ada salah satu Klenteng yang mengelar kegiatan hiburan rakyat. Dari sini, saya jatuh hati akan kesenian tradisional dari Negeri Cina, ini” ucap Sugiyo, saat ditemui tim jybmedia.com, baru-baru ini.

Menurutnya, dahulu, hiburan rakyat sangatlah langka dan tidak seperti era sekarang. Seiring perkembangan zaman, Wayang Po Tay Hie masih bisa bertahan dan banyak peminatnya, meski tidak seramai dahulu.

” Cara kami mempertahankan eksistensi kesenian ini, dengan mengadakan pertunjukan keliling yang dikemas dalam mobil GoPot alias Potehi Keliling dari Grup Wayang Potehi Fu He An dari Klenteng Hong San Kiong, Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang” urainya.

Baca juga:  Melihat Kelebihan Gethuk Pisang "Baariklana" Jadi Oleh-Oleh Khas Kediri

Seniman yang akrab dipanggil, Ki Subur, juga menambahkan, inovasi pelestarian kesenian tersebut sudah lama dilakukan sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Direncanakan, ada beberapa instansi swasta yang sudah melakukan komunikasi, guna melakukan kerjasama pertunjukan kesenian Wayang Po Tay Hie ditempat masing-masing.

” Untuk jasa sekali pertunjukan, tinggal melihat dimana lokasi kegiatan.Semisal lokal atau di wilayah Provinsi Jawa Timur, minimal Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Apabila luar Provinsi semisal di Jakarta, luar pulau atau bahkan luar negeri, nilai kontrak jasanya bisa lebih dari itu” katanya.

Kendati demikian, ia juga berharap kepada semua masyarakat khususnya warga Tionghoa, agar memberikan perhatian dan kepedulian. Karena, tradisi khas yang mereka miliki agar dilestarikan dan diwariskan bersama.

Dan, kepada Pemerintah Indonesia, meski kesenian Wayang Po Tay Hie merupakan kebudayaan Cina, tapi mohon dipikirkan kembali, siapa sosok yang bermain di balik wayang tersebut, yakni warga pribumi.

” Harusnya pemerintah bangga, karena ada anak bangsa seperti saya bisa memainkan kesenian Wayang Po Tay Hie. Sehingga, jangan ada perbedaan perlakuan dengan wayang kulit khas Indonesia” harapnya.(*/abi/bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here