Dokter Spesialis Paru : Meski Sembuh, Harus Tetap Waspadai Covid-19

Ilustrasi Covid-19

MAKASSAR — JYBMedia: Mereka yang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19, tidak sepenuhnya aman. Sejumlah kasus menunjukkan gejala Covid-19 bisa kembali menyerang penyintas.

Gejalanya pun berbeda-beda. Bahkan, tidak sedikit juga tanpa gejala. Dokter Spesialis Paru Konsultan, Primaya Hospital Makassar, dr M Harun Iskandar, SpPD SpP(K) mengatakan, long covid atau Covid-19 berkepanjangan, merupakan suatu kondisi penderita setelah sembuh masih mengalami gejala.

Gejala-gejala tersebut terjadi dalam jangka waktu lama. Ada yang mengeluh masih sering sesak, gampang lelah, sakit kepala, penciuman masih berkurang, dan batuk. Padahal hasil tes swab sudah negatif.

“Namun pada orang dengan Covid-19 gejala ringan, rata-rata gejala akan hilang total setelah dua pekan,” ucapnya, Minggu (27/6/2021).

Bagi mereka yang bergejala berat sampai kritis, masih bisa merasakan tiga sampai enam pekan setelah sembuh. Ada yang bergejala sampai bahkan lebih dari 12 pekan. Kondisi itu yang disebut long covid.

“Ada sekitar 10 persen pasien setelah sembuh, masih memiliki gejala-gejala hingga lebih dari 12 pekan,” sambung dr Harun.

Menurut dr Harun, gejala long covid ada karena dihubungkan dengan banyak faktor. Sebut saja diduga akibat luasnya peradangan, hingga kerusakan permanen paru dan organ saat seseorang terinfeksi Covid-19.

“Bisa juga karena adanya infeksi kuman lain atau terinfeksi virus korona kembali. Sehingga penyakit komorbid yang ada sebelumnya ikut memberatkan,” ungkapnya.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin menyarankan, jika gejala tersebut muncul kembali, sebaiknya segera memeriksakan diri.

“Supaya bisa dievaluasi kenapa bisa masih ada gejala,” tuturnya.

Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi (PAEI) Cabang Sulsel, Prof Dr Ridwan Amiruddin, menambahkan, berkepanjangannya kasus pada seseorang setelah dianggap sembuh, kemudian kambuh bisa disebabkan oleh banyak aspek.

Baca juga:  Memperingari Maulid Nabi, Menag Ajak Perbanyak Selawat

Di antaranya, kondisi imunitas tubuh yang terganggu, sehingga tidak mampu memberikan perlindungan optimal.

“Ini bisa jadi karena adanya komorbid atau peasien usia lanjut dan gangguan reaksi imun,” ucapnya.

Kemudian, kondisi lingkungan juga mempengaruhi. Bisa saja lingkungan di sekelilingnya kurang sehat untuk mendukung pemulihan sempurna.

“Ketika ini terjadi, maka akan timbul kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, dan kecemasan hingga depresi selama enam bulan setelah timbulnya gejala,” kuncinya. (asr/sib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here