Peneliti Kembangkan Temuan Fosil Kerangka Homo Sapiens

(ist)

MAKASSAR – JYBMedia: Sejumlah peneliti dan arkeolog mengembangkan penelitian fosil kerangka manusia purba modern (homo sapiens) yang diperkirakan berusia 7.200 tahun.

Fosil ini ditemukan di kawasan karst Maros-Pangkep, Wallace, Leang Panninge, Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sampai saat ini fosil itu masih terus diteliti. Ke depan para peneliti berharap bisa membuat sampel atau melakukan tes DNA (Deoxyribonucleic Acid).

“Dengan demikian bisa diketahui, apakah penduduk utama Suku Bugis Makassar, punya hubungan DNA atau tidak dengan kerangka temuan ini,” kata peneliti dan arkeolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Iwan Sumantri, di Makassar, Kamis (2/9/2021).

Penemuan itu diawali pada 2015, dengan penelitian yang diinisiasi Prof Akin Duli, selaku dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, bersama peneliti dan tim arkeolog dari Universitas Sains Malaysia.

Mereka, melakukan eksplorasi bagian depan lokasi teras Leang Panninge. Eksplorasi itu menemukan fosil kerangka manusia purba modern.

Sebagai bentuk penghargaan dan kesepakatan para peneliti, fosil kerangka itu dinamai Besse, julukan khas bagi anak perempuan Suku Bugis.

Namun, proses ekskavasi tidak bisa dilanjutkan karena adanya keterbatasan.

Pada 2017, ekskavasi dilanjutkan dengan pengupasan dinding luar lokasi kerangka itu berdiam.

Pada 2018, Besse yang diperkirakan berusia 17-18 tahun saat meninggal, diangkat untuk diteliti lebih lanjut.

Pada 2019, penelitian kembali dilanjutkan atas kerja sama Griffith University Australia, Puslit Arkenas Balar, Unhas, serta BPCB.

Ekavasi dilanjutkan dengan memperluas dan memperdalam galian di lokasi, hingga berhasil mengumpulkan lebih banyak sampel untuk pertanggalan sekaligus meneliti DNA.

“Ditemukan rangka di situ, diambil pada bagian tengkorak karena masih tersimpan jejak DNA, kami ambil tulang petros, (tulang) telinga bagian dalam di bagian pelipis tengkorak, ternyata masih ada DNA. Ini prestasi besar,” katanya.

Baca juga:  12 WNA Asal India yang Tiba di Indonesia Terkonfirmasi Positif Covid-19

Sampel DNA itu dikirim ke Max Planck Instititue di Jerman untuk dianalisis.

Hasilnya, mengandung genetik nenek moyang yang sama dengan orang Papua Nugini dan Aborigin di Australia.

Diketahui pula, ini merupakan spesies lain dari homo sapiens atau manusia purba Denisovan yang pernah ditemukan di Siberia pada 2010.

Soal DNA “Besse” bisa bertahan di iklim tropis di Indonesia dia berpendapat, diperlukan penelitian lebih lanjut.

Ada kemungkinan bukan sepenuhnya penduduk asli Sulsel tetapi ada genetik lain dibawa dari luar ke Sulsel.

Persebaran manusia di kawasan Wallacea, kata dia, membuka peluang menelusuri keberadaan Denisovan.

Melihat lokasi tempat tinggal Besse, secara morfologi gua yang ditempatinya bisa dijadikan tempat bermukim pada ribuan tahun lalu.

Bila melihat hasil temuan ini, pada masa itu ada perlakuan saat proses penguburan orang mati sejak 7.200 tahun lalu.

Rangka ditemukan selain tengkorak remuk, ada pula beberapa potong tulang panjang dengan posisi kerangka terlipat.

Ditemukan pula artefak, alat perburuan budaya kuno Suku Toalean atau Austronesian yang berdekatan dengan kerangka Besse.

Temuan ini cukup fantastis, karena sangat jarang sekali ada DNA terawetkan di dalam kerangka Besse, sebab negara tropis sangat sulit menyimpan genom DNA.

Hal ini menjadi analisis DNA pertama di Maros sekaligus di Indonesia.

Dilansir dari laporan jurnal Nature, yang diterbitkan 25 Agustus 2021, Besse ditemukan pada 2015 terkubur dalam posisi janin di Leang Panninge, gua prasejarah bebatuan kapur di Kabupaten Maros.

Kawasan itu masih merupakan bagian wilayah Wallacea.

Posisi fosil digambarkan dengan punggung melengkung, kepala menunduk, dan tangan dan kaki dilipat ke dekat torso.

Para penulis di jurnal ini menyebut, pertama kalinya ditemukan DNA manusia purba di wilayah itu.

Baca juga:  Ini Sikap Kedubes Malaysia Atas Lagu Parodi Indonesia Raya yang Provokatif

Besse juga dianggap bagian dari orang Toal, karena saat ditemukan, di sampingnya terdapat alat-alat jenis Toalean, alat yang dipakai orang Toal.

“Ini memberikan bukti kuat terkait hubungan Besse dengan orang-orang Toal yang kurang dikenal ini,” kata arkeolog Australian National University di Canberra, Shimona Kealy, dalam jurnal itu.

Wallacea juga dianggap sebagai daerah pintu gerbang yang dilalui nenek moyang orang Papua dan Aborigin Australia modern.

Namun sangat sedikit sisa-sisa penemuan manusia purba yang ditemukan di lokasi setempat.

Secara terpisah, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel Laode Muhammad Aksa menegaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan tim peneliti kerangka tersebut, termasuk berupaya melindungi lokasi Leang Panninge, tempat Besse bersemayam.

Pemerintah Kabupaten Maros melalui Tim Ahli Cagar Budaya telah menetapkan Leang Panninge sebagai situs cagar budaya dan dilindungi undang-undang. (*/cr2)

sumber: arkenas.kemdikbud.go.id, nature.com, beritasatu.com, media Indonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here