‘Prasasti Lucem’ Miliki Sejarah Besar di Dalamnya

Prasasti Lucem, peninggalan era kerajaan pada abad ke 10, terletak di Dusun Mojoduwur, Desa Pohsarang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

KEDIRI – JYBMedia: Berlokasi di Dusun Mojo Duwur Desa Pohsarang Kabupaten Kediri atau lebih tepatnya berada di sebelah timur Masjid Al Ittihad berjarak sekitar 800 meter ke timur, terdapat sebuah prasasti yang akrab dikenal masyarakat dengan sebutan dalam bahasa jawa “Watu Tulis” Pohsarang.

Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, dengan sebutan Batu Tulis. Konon, ini merupakan peninggalan dari era Kerajaan Kuno Jawa pada Abad ke-10 yang mempunyai ciri khas manuskrip huruf Kadiri Kwadrat sebanyak empat baris, dengan bagian terpanjang 190 cm.Sedangkan, ukurannya masing-masing 17×50 cm, yang diyakini engandung banyak pesan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Dalam manuskrip yang tertera dipermukaan batu alam secara bentuk utuh tersebut, pernah dibaca oleh seorang epigraf bernama Prof MM Sukarto Kartoatmojo adalah “934 tewek ning hnu bineheraken da Mel samgat Lucem mpu Ghek sang apanji tepet i pananem boddhi waringin.”

Artinya adalah “Tahun 934 Saka atau bertepatan 1012 M batas patok jalan diluruskan oleh Samgat Lucem pu Ghek Sang Apanji Tepet dengan penanaman pohon beringin.”

Dimana, keberadaan ‘Prasasti Lucem’ menceritakan sebuah peristiwa bersejarah.Yakni, tahun 934 Saka atau 1012 M telah dilakukan pembenaran atau pelurusan sebuah batas wilayah dua belah kerajaan oleh seorang penasihat atau hakim yang dalam bahasa Sansekertanya “Samgat” Lucem mpu Ghek (Lok), disertai dengan penanaman sebuah pohon beringin sebagai penanda.

Nur Ali, selaku Juru Kunci ‘Prasasti Lucem’, menjelaskan, Prasasti Batu Tulis Lucem, ada pada masa era Kerajaan Mataram Kuno hingga masa Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala. Adanya Prasasti, difungsikan sebagai penanda batas wilayah antara dua kerajaan tersebut. Usia ‘Prasasti Lucem’ diperkirakan sekitar 1364 tahun.

” Perhitungan ini diperoleh selisih antara Tahun Saka dan Tahun Masehi adalah 78 tahun. Dimasa era modern saat ini, masyarakat sekitar memanfaatkan keberadaan Prasasti untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang berupa Sedekah Bumi dan Doa bersama para warga yanh ditujukan kepada Tuhan YME.Kegiatan ini, rutin dilaksanakan memasuki Bulan Suro setahun sekali” tandasnya.

Baca juga:  Melanggar, Dua ASN di Kediri Diperiksa Bawaslu

Pernah Ditemui Sosok Penunggu ‘ Prasasti Lucem’

Ada kisah lain diceritakan Nur Ali, Pria yang juga sebagai pegawai di Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, menambahkan, selama merawat Prasasti Batu Tulis Lucem, ada pengalaman spiritual secara batin yang mungkin sulit untuk dinalar.

Bahkan ia menyebut, sosok tersebut tidak akan pernah dilupakannya. Kala itu, dirinya pernah ditemui sosok penunggu atau istilahnya Khodam dari Prasasti berwijud macan putih, sejenis “Wesi Aji” atau besi mulia pernah masuk ke tubuhnya, pada kisaran tahun 1999 memasuki tahun 2000. Lalu, sempat kembali ditemui sosok Khodam berwujud manusia dengan mengenakan baju ala kerajaan dengan perawakan tinggi sekitar 3 meter.

Sosok tersebut memberitahu secara langsung akan arti dan makna yang tersirat di dalam Prasasti. Dalam arti Manuskrip yang telah tertera. sosok itu mengucapkan sejumlah tiga bait dengan menggunakan bahasa kiasan,namun syarat falsafah kehidupan sebagai manusia.

“Rahayuning banyu biru ono ing gagang abang, Olo bakal lebir dening pangastuti, Raharjo ning dunyo ono ing karyo. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah, Jika ingin selamat hidup di dunia berpeganglah teguhlah sesuai hati. Perbuatan tercela akan sirna melawan kebaikan.
Kemuliaan bisa diraih dengan cara kita untuk Berikhtiar dengan bersungguh-sungguh “ucap Nur Ali

Bahkan, dirinya memerlukan waktu selama dua tahun agar bisa memahami dan mengerti apa maksud kalimat yang telah disampaikan. Apabila disimpulkan, ada kaitan antara Manuskrip yang tertulis pada Prasasti dengan ucapan yang disampaikan oleh sosok ghaib menyerupai manusia. Kaitanya, tentang petuah-petuah bijaksana yang menjadi inspirasi kehidupan masyarakat.

Terakhir, Nur Ali menyampaikan, ditengah pandemi Covid-19, agar masyarakat bisa memahami situasi kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah utamanya penerapan protokol kesehatan. Ia berharap, keberadaan Situs Prasasti Batu Tulis Lucem Pohsarang, bisa dilestarikan oleh masyarakat dan pemerintah.

Baca juga:  Terdampak Banjir di Garut Ada 3 Kecamatan

” Situs Lucem, juga telah terdaftar sebagai aset cagar budaya Nasional. Namun, kondisinya masih memprihatinkan, karena fasilitas infrastruktur jalan menuju ke lokasi belum memadai. Semoga, ada dukungan dan perhatian lebih dari pemerintah” pungkasnya.

Nur Ali, selaku Juru Kunci ‘Prasasti Lucem’.

Penulis : Moch Abi Madyan
Editor : Budi Arya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here