Eksistensi Museum Airlangga di Masa Pandemi Covid-19

Museum Airlangga, berlokasi di Jalan Lingkar Maskumambang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur

KEDIRI- Sebagai sumber informasi dan pelestarian sejarah, peran museum sangat penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Namun, ditengah wabah Covid-19, berdampak terhadap eksistensi akan keberadaan sebuah museum.

Salah satunya, museum Airlangga berlokasi di Jalan Lingkar Maskumambang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Sejak berlangsungnya masa pandemi, kisaran Maret 2020 lalu hingga sekarang, museum ini masih ditutup untuk umum. Namun, jika masyarakat ingin melihat atau mencari tahu informasi seputar sejarah atau melakukan ritual peribadatan tetap bisa dilakukan. Tapi,harus sesuai prosedur protokol kesehatan dan izin dari pengelola museum di bawah naungan bagian pariwisata disbudparpora kota kediri.

Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparpora Kota Kediri, Endah Setiyowati, menjelaskan,dimasa pandemi Covid 19, aktivitas kunjungan masyarakat ke museum Airlangga untuk sementara sifatnya terbuka secara umum.Namun, pemberlakuan kunjungan dilakukan secara terbatas dan mematuhi prosedur protokol kesehatan khususnya bagi pelajar.

” Kalau umat Hindu dan Budha serta penganut kepercayaan bila ingin melakukan ritual peribadatan, maka diberikan izin untuk masuk kedalam museum” ucap Endah, Rabu (06/10).

Ia juga mengatakan, pemeliharaan koleksi Cagar Budaya di museum terus dijaga dan dirawat oleh petugas juru pelihara benda-benda cagar budaya museum. Sehingga, koleksi 355 benda berupa arca, ertnografi atau tulisan peningalan masa lampau, kemudian fosil dan sebagainya kondisinya saat ini masih terawat dan tersimpan dengan baik.

Disamping itu, selain bisa berkunjung ke museum secara langsung, masyarakat juga bisa berkunjung secara online melalui website yang telah disediakan. Hal ini, dirasa lebih aman dan nyaman sebagai solusi saat pandemi Covid-19.

“Saya berharap kepada masyarakat agar tetap bisa berkunjung ke museum airlangga meski di tengah pandemi Covid -19. Tapi, demi kenyamanan bersama, masyarakat bisa berkunjung ke museum secara online yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Kediri,” harapnya.

Baca juga:  Sinergi Vokalis Punk dan Rapper Bikin Album Polahi Berwarna

Terpisah, Staff Sejarah Purbakala Disbudparpora Kota Kediri, Dwi Aris Setiawan, menyampaikan, dari 355 benda koleksi museum Airlangga, ada beberapa macam benda peninggalan sejarah era Kerajaan Kadiri, diantaranya tiga prasasti yang dilengkapi dengan simbol lencana Raja Kediri ketika memimpin kerajaan kala itu, meliputi :

Pertama, Prasasti Bemeswara, dengan simbol Lencana Ardha Candra Kapala atau disebut juga tengkorang mengigit bulan sabit, merupakan peninggalan Raja Bhameswara, tahun 1115 Masehi. Sebagai simbol perwujudan sosok dewa siwa yang digambarkan tengkorak sedang mengigit bulan sabit.

Kedua,Prasasti angin dengan simbol lencana berupa Ghanesa, merupakan peninggalan masa Raja Aryyeswara pada tahun 1181 masehi. Simbol lencana Ghanesa sendiri dapat diartikan sebagai simbol sosok pengetahuan, seni dan dewa perang. Bahkan, saat ini simbol sosok Ganesha dipakai oleh Pemerintah Kabupaten kediri sebagai lambang pemerintahan daerah.

Ketiga,Prasesti Cker dengan simbol lencana sangka bersayap atau kerang bersayap, merupakan peninggalan masa Raja Kameswara pada tahun 1185 Masehi. Melambangkan pemujaan Dewa Wisnu dimasa pemerintahan Raja Kameswara muncul Kakawin atau kitab cerita tentang asmara Dhahana Karya Empu Dharmaja, menjadi sumber cerita Panji yang melambangkan kekuatan cinta yanf bila ditafsirkan keberadaan Kediri adalah kota yang penuh cinta, kasih, penuh dengan toleransi dan harmonis.

“Sehingga bisa disimpulkan dari sejumlah raja-raja yang telah memerintah kerajaan kediri memiliki bentuk lencana yang berbeda beda pada setiap masanya,”ucapnya

Aris juga menambahkan, salah satu koleksi museum Airlangga yang menjadi identitas atau mahakarya yang luar biasa. Bahkan, keberadaan jambangan batu sulit ditemukan di museum museum lainya di seluruh wilayah Indonesia.

Adalah jambangan batu yang fungsinya diperkirakan sebagai prosesi melakukan upacara ritual oleh Raja Kalaitun untuk meminta petunjuk kepada Dewa atau sang pecipta menggunakan media berupa wadah air suci. Diperkirakan, peninggalan Raja Bhameswara pada tahun 1118 Masehi atau abad ke 12. Sisi menariknya di era modern saat ini, sebagaian masyarakat menggunakan sebagai bak mandi atau bahasa Inggris nya bathtub.

Baca juga:  Dorongan Alat Musik " Karinding" Masuk UNESCO

” Maka, sejak zaman kerajaan atau leluhur kita sudah mengenal terlebih dahulu bak mandi atau istilah yang digunakan jambangan batu. Sehingga, bisa dibayangkan peradaban teknologi kala itu sangat begitu maju, dengan bukti keberadaan jambangan batu yang berada di museum Airlangga yang dipenuhi hiasan ukiran motif beragam dan mengandung falsafah sangat tinggi” pungkasnya.

Penulis : Moch Abi Madyan
Editor : John Bon Arya
Pubhliser : Nasrudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here