H. Moeslim Kawi, Wartawan Tiga Zaman Akhirnya Berpulang

(ist)

PEKANBARU – JYBMedia: Wartawan senior H Moeslim Kawi meninggal dunia, Rabu (1/12/2021) malam, sekitar pukul 22.00 WIB di RS Ibnu Sina Pekanbaru dalam usia 86 tahun.
Wartawan tiga zaman penerima Press Card Number One (Wartawan Nomor Satu) di Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2011 di Kupang ini, meninggal setelah dirawat selama dua hari karena sakit tua.

Menurut Adek Kawi, anak almarhum, ayahnya tak lama dirawat di rumah sakit. Hanya dua hari dan langsung masuk ICU RS Ibnu Sina. Tapi, karena kondisi lemah akibat sudah tua, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

”Mohon ma’af atas kesalahan beliau. Semoga beliau husnul khotimah, diampuni dosa-dosanya, dan diterima amal ibadahnya, dan dimasukkan ke sorga. Aamiin ya rabbal alamin, ” ujarnya.

Moeslim Kawi menghabiskan hari tuanya di rumah. Sejak lama dia rajin jalan pagi. Karena itu kesehatannya selalu terjaga. Apalagi orangnya ceria, seperti tidak ada masalah.

Namun sejak istrinya meninggal beberapa bulan lalu, penasihat PWI Riau itu mulai agak menurun fisiknya. Beliau memang tidak sanggup lagi menghadiri kegiatan-kegiatan PWI. Tapi semangatnya tetap berapi-api.

Ketika rombongan pengurus PWI Riau menyambangi rumah almarhum dalam rangka peringatan HPN Maret 2021, Moeslim Kawi masih berminat untuk ikut HPN di Pulau Rupat. Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut, apalagi musim Pandemi Covid 19.

Ketua PWI Riau Zulmansyah Sekedang menyatakan turut berduka atas berpulangnya Moeslim Kawi.

”Keluarga besar PWI Riau sangat berduka atas berpulangnya Pak Moeslim Kawi. Beliau banyak berjasa untuk wartawan Riau dan nasional. Idelialismenya perlu ditiru oleh wartawan muda di Riau. Semoga almarhum husnul khotimah. Aamiin, ” ujarnya.

Semua wartawan di Riau, bahkan nasional, sangat kenal dan akrab dengan Moeslim Kawi. Orangnya memang ceria dan enak bergaul. Namun soal idealisme wartawan, almarhum patut diacungi jempol. Tidak terpengaruh oleh uang dan tetap memegang etika jurnalistik.

Baca juga:  Bermodalkan Pipa Air, Pemuda Lamongan Hasilkan Lampu Hias Bernilai Seni Tinggi

Almarhum terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan GENTA. Sejak tabloid itu ditutup, beliau tak aktif lagi menulis. Tapi setiap kegiatan PWI beliau tetap hadir. Tabloid GENTA kini hidup kembali dan dikelola oleh anak muda.

Moeslim Kawi, kahir 4 Agustus 1935, merupakan wartawan senior Indonesia. Ia berasal dari Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota, menjalani masa kanak-kanak di kampung halamannya.

Ia adalah seorang wartawan sepanjang hayat. Muslim Kawi pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau di tahun 1981 hingga 1985, dan beliau juga salah seorang yang membentuk PWI Riau.

Hampir tiga per empat usianya diabdikan sebagai wartawan. Ia menempuh pendidikan dan menamatkan Sekolah Rakyat (SR), melanjutkan ke SMP di kota Payakumbuh, seangkatan dengan politisi dan mantan anggota DPR RI dari Golkar Novyan Kaman.

Ia tertarik dengan dunia tulis menulis, sejak 1955 mengirim tulisan ke Mingguan Waktoe di Medan, saat bekerja sebagai pegawai tata usaha (TU) Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di kota kelahirannya, setelah tamat SMP. Ia mengirim cerita-cerita unik yang terjadi di masyarakat, termasuk rubrik “Mari Ketawa” (Lucu-lucu), dan hasilnya dimuat.

Moeslim mengirimkan berita-berita kejadian di sekitar kotanya ke surat kabar Harian Njata, ketika harian tersebut terbit di Bukittinggi tahun 1955. Ternyata, semua tulisan yang dikirimnya selalu dimuat dan nyaris tanpa koreksian.

Moeslim Kawi selalu mencantumkan kode “MK” di akhir tulisan pada setiap berita yang dikirimnya. Ketika itu redaktur surat kabar Moeslim Roesdi, yang dipimpin oleh Osman Hasibuan dan Soewardi Idris (Wapimred) yang merupakan sahabat dan teman sepermainan Moeslim Kawi, ternyata tahu bahwa kode wartawan MK tersebut adalah Moeslim Kawi

Baca juga:  Minim Bahan Baku, Penjual Kedelai Rebus Makin Langka

Selamat jalan Pak Moeslim Kawi. (nb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here