Merawat Budaya, Gelar Seminar Pelestarian Benda dan Simbol Adat

(ist)

AMBON – JYBMedia: Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata – Semarang dan Univesitas Pattimura (Unpatti), Kamis, menggelar seminar hasil penelitan ‘Urgensi Pelestarian Benda/Simbol Adat Sebagai Penguat Ekistensi Negeri’ di balai kota Ambon.

Plh Sekretaris Kota (Sekot) Rulien Purmiassa, saat membuka seminar tersebut sampaikan, benda atau simbol budaya merupakan penguatan eksistensi dari negeri adat. Oleh sebab itu keberadaannya perlu dilestarikan oleh masing-masing negeri untuk mengokohkan nilai dan pranata adat dalam keseharian.

Dikatakan, Kota Ambon merupakan kota yang unik, karena termasuk salah satu dari sedikit kota di Indonesia yang memiliki desa/negeri adat. Keberadaan desa/negeri adat ini di satu sisi menjadi jati diri dan membutuhkan pengakuan disamping itu pada sisi kebijakan anggaran, cukup menguntungkan karena APDB diperkuat dengan dana desa yang jumlahnya signifikan.

“Dari dana desa yang jumlahnya cukup signifikan tersebut digunakan untuk menopang tugas pelayanan publik, pemerintahan dan pembangunan khususnya di desa/negeri adat,” ungkap Purmiassa.

Tekait dengan pelaksanaan seminar, lanjutnya, sangat membantu kota Ambondalam mengokohkan ekistensi untuk menjawab pertanyaan mengapa ada desa/negeri di wilayah kota.

“Seminar ini berbicara soal pelestarian simbol adat, di mana sebenarnya itulah esensi kita dalam menjustifikasi kebudayan negeri-negeri di kota Ambon,” bebernya.

Menurut Plh Sekot, jika nilai budaya itu benar – benar terinternalisasi di dalam hidup masyarakat maka proses penyelenggaraan pembangunan dapat berjalan tanpa hambatan.

“Sesunggunhnya proses penyelenggaraan pembangunan tidak ada hambatan sturuktural organisastoris, karena nilai adat yang diwarisi. Kalau itu ditaati misalnya, tidak ada proses yang belarut-larut tentang siapa yang harus yang memimpin negeri,” kata dia.

Sayangnya, benda dan simbol adat sebagai warisan leluhur dan eksistensi negeri adat seringkali terdistorsi oleh kemajuan dan perkembangan zaman.

Baca juga:  Tradisi Liwetan, Menutup Peringatan Maulid Nabi dan Hari Santri di Kota Kediri

Untuk itu, Plh Sekot berharap lewat penelitian dan seminar yang dilaksanakan unika dan unpatti, setiap negeri dapat membuka, mengenali, dan mengokohkan pranata adat dalam keseharian, karena adat bukan hanya saat pemilihan raja saja tetapi mencakup keseluruhan aspek hidup masyarakat negeri.

“Mungkin masyarakat yang ada di Leitimur Selatan dan Nusaniwe, struktur konstelasi negeri ada masih cenderung homogen, tapi di Negeri batu merah tingkat heterogenitas amat tinggi dan untuk mempertahankan eksistensi adat sudah sulit,sehingga lewat kegiatan ini kita lebih mengenal atau mengokohkan eksistensi sebagai negeri adat yang ada di kota Ambon,” tandasnya, dilansir dari infoambon grup siberindo.co jaringan jybmedia.com

Seminar hasil penelitan “Urgensi Pelestarian Benda/Simbol Adat Sebagai Penguat Ekistensi Negeri” menghadirkan narasumber utama Trihoni Nalesti Dewi dan Yulita Titik dari Unika Soegijapranata dan pembicara lainnya dari Unpatti Ambon yang turut memberikan tinjauan dari berbagai bidang keilmuan terhadap penelitan dimaksud. Rektor Unika, Dr. Ferdinandus, juga hadir secara virtual memberikan arahan.

Turut hadir sebagai peserta seminar para Camat, Penjabat Kepala Pemerintahan Desa/Negeri serta para Raja se- Kota Ambon. (pj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here